Jumat, 20 September 2019

Kota Malang, Inilah yang Kuingat Tentangmu



Hari Selasa kemarin, saat sambil ngelonin Kak Ghifa tidur siang, kunikmati tayangan Tau Nggak Sih di Trans7.

Pas banget, di luar matahari terik banget, di TV malah lagi nayangin yang hangat binti segar khas Kota Malang. Apalagi kalau bukan bakso.

Duh, ngiler aku.

Kak Ghifa yang sudah tinggal 5 watt matanya saja sempat berujar, "Kakak mau bakso, Mi."

"Iya, babuk (tidur) dulu. Nanti sore beli bakso yang biasanya lewat." jawabku.

Tak lama kemudian Kak Ghifa telah tidur. Inginku juga segera bisa tidur menyusul Kak Ghifa. Maklum, setengah hari nguli di sekolah, capek juga ternyata. Tapi, apa daya? Pikiranku malah melayang ke masa-masa saat aku PPL bersama teman PGSD seangkatanku ke Kota Malang.

Tepatnya saat aku semester 6, sekitar pertengah November tahun 2013 lalu. Dengan biaya sekitar 800 ribu, kami melakukan beberapa kunjungan. Mulai dari kunjungan ke beberapa kampus di Malang, Selecta, BNS, sampai ke Bromo. Agar lebih terperinci, aku buat poin-poin saja, ya, ceritanya.

Kunjungan ke Kampus 


Hari pertama sampai di Malang, kami langsung berkunjung ke Universitas Negeri Surabaya. Di sana kami dikenalkan berbagai tetek bengek tentang jurusan PGSD. Mulai dari mata kuliah, kemudian ekstrakulikulernya apa saja, portofolio mahasiswa, masuk ke berbagai laboratorium yang dimiliki dan nguprek baca sekilas skripsi-skripsi alumni.

Rombongan kami saat berada di Universitas Negeri Malang

Di hari kedua, kami juga berkunjung ke kampus. Tepatnya di Universitas Negeri Malang. Di sana kami di kumpulkan di dalam aula. Kemudian anggota HIMA pada unjuk muka di depan. Ada narasumber yang hadir, HIMA dari kampus yang kami kunjungi, sedang memperkenalkan kampusnya sekaligus sharing mengenai PGSD versi mereka.

Nah, pas kegiatan ini, dosen-dosen kami ada acara sendiri dengan dosen pihak kampus yang kami kunjungi. Kampusku kan saat itu masih baru (aku angkatan kedua yang diwisuda), nah, ke kampus-kampus ini maksudnya menimba ilmu. Demi apa? Ya, memajukan PGSD di kampusku. Kalau ada yang baik, kan, dicontoh, diinovasi. Sekarang sih memang sudah beda banget. Makin keren pastinya. Hahaha. Pamer.


Menginap di Hotel Wonderland


Setelah kunjungan ke Universitas Negeri Surabaya, kami langsung menuju Hotel Wonderland. Di sana ada banyak sekali kamar. Aku mendapat kamar di lantai satu, dekat dengan kolam renangnya.

Kami berfoto di depan kamar, samping kiri kami ada kolam renang

Aku suka dengan hotel pilihan kampusku. Meskipun kami hanya semalam di sana, kasur yang empuk, kamar mandi yang bersih, bisa melihat kolam renang lewat pintu belakang, kemudian pemandangan pagi lengkap dengan gunung yang menjulang, rasanya lelah perjalanan di hari sebelumnya langsung terbayar lunas.

Dari dulu aku suka jadi tukang motret daripada dipotret

Aku jadi penasaran, apakah hotel yang kuinapi dulu itu masih ada? Kucoba cari hotel murah di Malang via aplikasi Traveloka. Eh, ternyata, Hotel Wonderland ada. Semoga nanti pas jalan-jalan ke Malang lagi, aku bisa ajak Kak Ghifa menginap di sini. Soalnya, pas aku lihatin foto kolam renangnya dengan patung dua gurita, mata Kak Ghifa sangat berbinar-binar. Semoga bisa ke sana beneran ya, Kak. Bareng sama abi. Aamiin.

Pagi-pagi lihatnya kayak gini, ulala nikmatnya.

Jalan-jalan ke Selecta, BNS, dan Mencicipi Dinginnya Gunung Bromo


Perjalanan kami saat itu disebut sebagai PPL nonkependidikan. Ya, kunjungan ke kampus, tapi banyak jalan-jalannya. Hihi.

Setelah makan siang di Hotel Wonderland, kami langsung check out dan cus jalan-jalan ke beberapa obyek wisata.

Baru masuk sudah disambut dengan ikan-ikan yang cantik

Halo!

Selecta, yang kuingat tentang tempat wisata ini adalah bunga-bunga yang cantik. Terletak di Batu, Malang, tempat ini cantik sekali. Banyak berbagai macam bunga ada di sini. Kalau sekarang, kulihat di berbagai situs jalan-jalan, tempat ini sudah dilengkapi dengan permainan.


Pokoknya kalau ke sini jangan lewatkan kesempatan untuk mengambil banyak foto-foto kece, ya. Siapin juga kaki yang tangguh, soalnya tempatnya luas banget.


Setelah ke Selecta, rombongan kampus kami meluncur ke BNS. Batu Night Spectacular (BNS) yang hanya buka mulai pukul 15.00 ini membuatku takjub. Banyak sekali permainan di sini. Ada rumah hantu, permain pemacu adrenalin, atau mau berfoto di antara lampion?



Lampion-lampion cantik ada di mana-mana. Bentuknya juga unik-unik. Selain itu bisa belanja oleh-oleh juga. Dulu, aku nggak banyak beli oleh-oleh. Padahal setelah dari sini sudah nggak mampir-mampir lagi ke tempat oleh-oleh. Nyeseeeeel banget nggak punya kenang-kenangan, walau hanya sekadar kaos tulisan I Love Malang.

Aku pernah kurus, Gaes.

Seingatku, dulu pulang dari BNS tuh sekitar pukul 22.00 WIB. Kemudian kami check in ke penginapan yang serba putih. Tempatnya lebih bagus dari Hotel Wonderland sih menurutku. Sayang, kami hanya makan malam, bersih-bersih, kemudian tidur. Aku sampai nggak ngeh menginap di mana. Foto-foto saja nggak sempat saking capeknya. Pukul 02.00 kami sudah langsung cus menuju Gunung Bromo.

Saat dini hari bangun, aku dan tiga teman sekamarku mengalami kejadian yang tak pernah kulupakan. Saat itu tiba-tiba pintu kamar kami digedor seseorang, kutahu belakangan itu adalah dosen kami yang membangunkan kami.

Saking kaget dan cuaca dingin Kota Malang, tiba-tiba temanku tadi mengerang kesakitan karena badannya sangat kaku dan dingin. Kami bertiga segera mencari cara untuk mengatasi kejadian tersebut. Ada yang menyelimuti, menggosok semua bagian tubuhnya dengan minyak kayu putih, sampai menenangkannya dengan beristighfar.

Sumpah, kejadian itu sangat menegangkan.

Menanti matahari terbit di kawasan GUnung Bromo


walau tertutup awan, tetap cantik


Hawanya memang, Ya Allah, dingiiiiiiiiiin banget. Padahal kami sudah tidur dengan mengenakan kaos kaki, jaket, kemudian pakai selimut lho. Ngeri. Sampai menusuk tulang.

Alhamdulillah, setelah 15 menitan, temanku bisa kembali baik-baik saja dan kami segera check out. Sampai di dalam bus, kejadian tersebut jadi bahan pembicaraan hangat menuju ke Gunung Bromo.

Lupakan tentang kejadian mengerikan tadi. Karena perjalanan  menuju kawasan Gunung Bromo lebih mengerikan lagi. Hahahaha. Setelah sampai di terminal pemberhentian bus, kami segera naik angkutan khusus.  Pas naik ini, Ya Allah, ngeriiiiii cuy. Jalannya kayak alas roban, naik turun tak terkendalikan. Karena dini hari, jujur, rasa kantuk tak bisa tertahankan. Tapi, mana bisa tidur kalau jalannya bikin deg-deg-an setiap saat. Entah, ya, kalau sekarang.

Bak di atas awan

Setelah naik angkutan, sekitar pukul 04.00 WIB, kami naik jeep menuju kawasan Gunung Bromo. Sampai sana, kami tak bisa berkata-kata. Kegiatan kami hanya berfoto-foto. Hahaha.

Saat itu, aku tidak naik ke puncak Gunung Bromo. Tidak tahu kenapa, rasanya malas saja. Kakiku sudah terasa capek setelah jalan keliling Selecta dan BNS. Nyesel juga sih, jauh-jauh tapi nggak naik ke puncak. Makanya, pengen balas dendam, kapan-kapan kudu ke sana lagi, bersama Kak Ghifa dan abi. Aamiin.


Nah, itu tadi ceritaku tentang Kota Malang yang masih melekat erat di ingatanku. Entah pukul berapa akhirnya aku tertidur. Saat aku terbangun sudah pukul 16.00 WIB. Hihihi.

Kalau kamu, sudah pernah ke Malang? 

Selasa, 17 September 2019

Ke Pekan Raya Gubug 2019 Hanya Bawa Uang Seratus Ribu, Dapat Apa?



Ternyata, jalan-jalan sekeluarga hanya membawa uang seratus ribu kok bisa berujung dengan hepi, ya. Nagih, deh.

Hari gini lho, ya. Seratus ribu? Dapat apa?

Dulu, aku tipe orang yang kalau mau piknik bersama keluarga tuh kudu punya perencanaan yang matang banget. Baik itu perkara perencanaan tempat tujuan sampai dananya.

Alhasil, banyak perencanaan yang muluk-muluk, dananya nggak ada, piknikpun nggak pernah terlaksana. Kata orang Jawa, ati karep bondho cupet. Semenjak itulah, mindset kalau piknik itu butuh dana yang gedhe pun terbentuk. Dilarang mimpi piknik deh kalau nggak punya uang melimpah.

Kini, beda lagi ceritanya. Tuntutan hidup makin mencekik. Kesibukan di sekolah dan di rumah tidak pernah ada habisnya.  Huh. Karena keseringan dihimpit dengan pilihan hidup inilah, ditambah dengan tuntutan nafsu yang tak terkendali, piknik ala orang misquin ala aku pun tercipta. Modal duit seuprit, sekeluarga bisa 'ajeb-ajeb' untuk buang stres yang menumpuk.

Salah satu piknik ala orang misquin yang baru-baru ini kami lakukan adalah ke Pekan Raya Gubug 2019, Sabtu kemarin. Mau tahu kami ngapain saja, terus dengan uang seratus ribu bisa makan dan beli apa?

Kami sedang menunggu sosis panggang pesanan Kak Ghifa. Pekan Raya Gubug 2019 tampak lengang.

Pekan Raya Gubug 2019 ini, kali pertama diselenggarakan di Gubug, letaknya hanya 10 menit dari rumahku kalau ditempuh dengan sepeda motor. Bertempat di lapangan PUK, dekat pasar Gubug, acara yang digawangi oleh Sirup Kartika buka sejak tanggal 13 - 14 September 2019.

Pekan Raya Gubug ini tuh ada apa saja? Banyak banget. Ada berbagai lomba, hiburan artis lokal sampai ibu kota, colour run, jalan santai, stand yang jual produk-produk unggulan Grobogan, serta yang ingin kucari adalah food court. Yes, tujuan utamaku ke sini, ya, mau kulineran.

Sebulan sebelum Pekan Raya Gubug ini dimulai, baliho dan informasi via facebook dan instagram tuh sudah ramai banget. Makanya, aku dan abi ingin sekali meluangkan waktu. Mumpung. Soalnya jarang banget ada acara beginian di dekat rumah. Sekalian golek howo, cari udara segar.

Sayang, pagi hari itu aku sempat kecewa karena bakalan gagal ke Pekan Raya Gubug karena Kak Ghifa demam. Tapi, setelah minum tempra, tak lama langsung turun panasnya, dan sorenya langsung cus deh.

Kami siap menjemput kebahagiaan.

Aku, abi, dan Kak Ghifa, niat banget berangkat ke Pekan Raya Gubug selepas maghrib. Tentu tanpa makan malam dulu. Kan mau kulineran.

Ternyata pilihan kami untuk berangkat di jam itu tepat. Parkiran masih sepi euy. Setelah membayar parkir Rp 3.000 (ada teman yang cerita bayar parkirnya Rp 5.000, beruntungnya kami dapat harga lebih murah), kami langsung mencari pintu masuk ke area Pekan Raya Gubug. Sama dengan suasana parkiran, lapangan PUK saat itu masih sepi. Jalanan di area food court juga masih lengang. Hasratku untuk kulineran pun makin tak tertahankan.

Tujuan pertama kami saat itu adalah sosis panggang (seporsi isi 3 Rp 10.000, biasanya kalau di rumah, sih, seporsi itu hanya Rp 6.000. Dasar emak-emak pengiritan). Iya, siapa lagi kalau bukan untuk Kak Ghifa. Dari rumah dia sudah merapalkan, "Nanti beli sosis, ya, Mi." Nah, agar nggak rewel karena kelaparan, maka perutnya harus segera diisi.

Foto dari Ig Dek Enggi

Sambil menunggu sosis dipanggang, kuamati, kebanyakan food court di sana jual berbagai macam sate-satean, kebab, burger, ayam krispi, dan ayam geprek. Kupikir, ah, kalau itu-itu sih sudah sering makan. Aku mencari makanan yang beda dari biasanya, apa, ya?

Tertariklah mataku kepada Mas penjaja yang sedang semangat mengaduk makanan di atas wajan berbentuk persegi panjang. Ternyata food court di depannya juga ada makanan serupa. Karena penasaran, kudekati. Kutengadahkan kepalaku dan memandangi banner yang ada di atasku, "Bayi Gurita".


Wew.

Bagaimana, ya, rasanya?

Mas yang sedang memasak itupun tahu kalau aku kepo akan rasa bayi gurita, "Boleh nyobain dulu, Mbak. Silakan."

Tanpa basa-basi lagi, kuambil tusuk kayu yang tersedia dan mencoba olahan bayi gurita itu. Hup. Eh, kesan pertama, amis banget rasanya. Setelah dikunyah, ehm, kenyal, enak sih, tapi lebih enakan udang kalau menurut lidahku. Hihihi.

Karena masih penasaran, pun belum pernah makan olahan bayi gurita, kami membeli seporsi dengan harga Rp 30.000. Yah, mahal dikit nggak papalah. Kan nggak tiap hari makan.

Sampai sini, uang kami tinggal Rp 57.000. Dapat apa lagi, ya?

Bayi gurita yang tampak menggoda

Kami lanjut jalan mencari sesuatu yang bisa mengganjal perut kami. Muter sana-sini, ketemunya ya burger, kebab, burger, kebab. Maklum, abi berlidah ndeso, makan begituan ya bisa menye-menye alias ogah-ogahan.

Sampai akhirnya, kami nemu ibu penjual lontong pecel dan campur (seperti ketoprak). Kami pesan seporsi lontong pecel, segelas kopi, dan sebungkus rempeyek. Nggak nyesel sih sudah duduk di tempat penjual lontong pecel ini. Rasanya enak, sambalnya nendang abis. Rempeyek kacangnya juga enak, ludes sampai lupa nggak aku foto.

Lontong pecel habis, sosis Kak Ghifa juga habis, kami pun berpamitan dengan membayar Rp 12.000. Kalau bukan karena ada pembeli lain yang sudah antre, ogah deh pindah dari tempat duduk. Hahahaha. Soalnya seru juga, makan sambil nglihatin orang pada lalu-lalang.

Lontong pecel, seporsi Rp 6.000

Perburuan makanan kami belum selesai. Kak Ghifa tiba-tiba, "Ummi, tumbas (beli) itu."

Saat kutengok ke mana arah tangannya menunjuk, baru kutahu, dia ingin menyanta Pop Mie yang sudah diidamkan dari seminggu yang lalu. Baiklah, karena hari itu kami mau hepi-hepi, mie instan, hayuklah.

Kami membeli dua Pop Mie dengan harga Rp 16.000. Di bawah gawang sepak bola yang diletakkan di pinggir lapangan, kami habiskan dua Pop Mie untuk bertiga. Ngirit banget, sih? Nggak deh, Kak Ghifa se-cup habis, aku sama abi makan berdua, biar romantis.

Makan Pop Mie dulu biar waras, Gaes

Sampai sini, uang kami tinggal Rp 29.000.

Mau ngapain lagi, ya? Perut kami sudah mulai begah karena terisi lontong dan Pop Mie. Bayi gurita pun belum sampai habis dimakan.

Kami memutuskan untuk ke tengah lapangan yang mulai ramai dengan pengunjung. Di tengah lapangan ada dua panggung. Satu, panggung kecil untuk lomba anak SMA (saat itu). Dua, panggung utama, besar dan megah, untuk fashion show yang diiringi oleh DJ Glavisto. Malamnya ada dangdut Metro.

Foto dengan latar padatnya pengunjung

Suara dentuman musik saat itu benar-benar menandakan kalau, ya, ini malam minggu. Ramai, penuh banget, lapangan yang tadinya lengang, kutinggal makan Pop Mie sejenak langsung penuh dengan lautan manusia. Panitia acara Pekan Raya Gubug 2019 ini sukses menghibur warga sekitar.

Sayang, kalau aku masih gadis nih, ya, kujabanin deh untuk ikutan berdiri di tengah lapangan menikmati suasana malam minggu. Hahaha. Gaya banget, ya? Ntar pulang-pulang langsung masuk angin. Kerokan. Anak rumahan, kok. klayapan.

No, no, no.

Ini panggung kedua mulai dipenuhi pengunjung


Baru berdiri di tengah kerumunan selama 10 menit, Kak Ghifa mulai gelisah. Yes, kutahu dia tak akan nyaman di tempat yang terlalu ramai seperti itu. Kami pun memutuskan untuk melipir. Kutawari untuk main di istana balon, tak mau. Ngeri kali, ya, lihat banyak banget anak-anak di sana. Oke, pulang saja deh. Tapi, mau ke pintu keluar saja, duh, susahnya. Ramai. Padat.

Begini penampakan panggung utama

Sampai di pintu keluar, Kak Ghifa tertarik untuk membeli gelembung sabun. Mainan yang satu ini tidak pernah absen dibelinya.

"Sepuluh ribu, Mbak."

Beli gelembung sabun dulu, Gaes

Eh, kok murah? Biasanya Rp 15.000 lho. Asyik, emak hemat Rp 5.000. Saking seringnya beli sampai syok dapat harga yang murah banget.

Berarti uang seratus ribu masih sisa dong? Iya, sisa Rp 9.000. Untuk apa, ya? Kami pilih menggunakan uang sisa tersebut untuk membeli gorengan sebagai oleh-oleh orang rumah. Alhamdulillah, lengkap sudah.

Rp 9.000 dapat gorengan segambreng


Eits, tunggu dulu. Cerita malam itu belum selesai, Gaes.

Pas perjalanan pulang, Kak Ghifa merengek minta minum. Padahal tadi sudah habis dua botol minuman yang sengaja kami bawa dari rumah. Tapi, nggak papalah, tombok dikit, nambah dikit pengeluaran untuk membeli minuman di minimarket.

Ngemper di minimarket

Setelah puas minum di depan minimarket, kami pun melanjutkan perjalan pulang. Sampai rumah, Kak Ghifa sudah tak sabar untuk main dengan gelembung sabunnya. Alhamdulillah, dengan uang seratus ribu, sekeluarga hepi. Orang rumah juga ikutan bahagia dengan oleh-oleh gorengan yang tak seberapa. Eh, masih ada bayi gurita juga.

Nah, untuk kamu yang punya dana terbatas, piknik ala orang misquin seperti ceritaku ini bisa juga lho kamu coba. Aku ada beberapa tips nih biar pengeluaran benar-benar terkendali saat pergi piknik. Apa saja itu?

  • Perencanaan sebelum pergi harus jelas. Mau ngapain saja. Paling nggak kalau kulineran sepertiku di atas, tetapkan nanti maksimal beli makanan berapa macam. Pilih makanan yang memang benar-benar belum pernah/jarang/pengen banget dimakan. 
  • Kalau pergi dengan anak kecil, usahakan bawa tetek bengeknya dari rumah. Misal tisu, telon, lotion anti nyamuk dan minuman mineral.
  • Kenakan baju yang paling nyaman. Kemarin aku sempat salah kostum. Kupikir kan dingin, tempatnya terbuka pula, aku pakai baju tunik kaos tebal. Eh, ternyata, panas banget di sana. Kak Ghifa malah pakai baju kostum karnaval. Hahaha. Dasar anak itu.
Untuk kamu yang berada di luar Grobogan, tahun depan ingin mengunjungi Pekan Raya Gubug? Bisa nih mulai ngintip-ngintip aplikasi booking hotel. Hahaha. Demi terwujudnya piknik keluarga yang berkesan, hari gini dana mepet mah bisa diakalin. Banyak juga kan promo yang ditawarkan setiap kesempatan.



Aku sering nengok-nengok situs Pegipegi.  Buat apalagi kalau bukan untuk berburu promo?

Paling senang kalau pas mantengin hotel di situs Pegipegi tuh banyak banget pilihannya. Hotel ternama, ada. Mau cari hotel dengan harga pas di kantongku juga banyak. Enaknya lagi, fiturnya memudahkan banget saat kita mau mencari hotel di daerah tertentu. Misalnya, aku mau menginap di hotel area Semarang Timur, bisa tuh tinggal klik dan pilih Semarang Timur, muncul deh beberapa hotel di area tersebut.

Balik lagi tentang Pekan Raya Gubug 2019. Menurutku, acara ini wajib banget untuk diulang pada tahun depan, 2020. Hanya saja, kalau bisa ditambah lagi stand dan food courtnya. Jenis kulinernya juga ditambah. Oiya, tempat sampahnya, euy, ngumpet di belakang. Diperbanyak lagi jumlah tong sampah agar area tidak penuh dengan sampah. Sukses selalu untuk semua yang sudah ada di balik layar Pekan Raya Gubug 2019 

Hari gini, mau piknik, kulineran tapi nunggu uang kumpul banyak dulu? Duh, duh, duh, nggak jadi berangkat! Wong modal seratus ribu juga bisa bikin hepi, kok. Aku sudah membuktikan. Kamu, kapan? 

Sabtu, 07 September 2019

Pindah Sekolah


Kabar pindahku ini banyak yang bilang mendadak. Aku juga merasa demikian. Tapi, mumpung ada kesempatan baik, kenapa tidak?

Sejak setahun yang lalu


Kepindahan ini sudah lama kuinginkan. Banyak faktor, diantaranya aku mulai bingung Kak Ghifa siapa yang momong?, tidak tega kalau dia ikut sekolah terus, kemudian keadaan sekolah yang menurutku sudah tidak sehat. Poin terakhir itu murni menurutku lho ya.

Awalnya, keinginan pindah itu hanya jadi wacana saja. Karena aku takut tidak dapat kelas (jadi guru gajulan, alias cadangan), membuatku mundur teratur. Apalagi ada kabar kalau SD yang dekat rumahku (incaranku) telah menerima guru wiyata baru. Ya sudah. Pupus sudah.

Akhirnya kabar CPNS datang, aku berpikir, mungkin rezekiku memang di SD yang selama ini jadi tempat mengabdiku. Makanya, saat SD ku ini dapat formasi atau jatah 1 CPNS, aku pun ambil formasi itu. Walau ternyata aku tidak lolos CPNS dan harus bertemu dengan pesaingku. Hahaha.

Aku tidak masalah. Bahkan aku sekuat itu menerima takdir yang ada.

Allah tahu betul yang terbaik untukku.

Kabar lowongan wiyata datang langsung dari kepala sekolah


Kamis, 13 Juni 2019, ibuku pulang dari bank dengan wajah sumringah.

"Kamu tahu, ibu ketemu sama siapa tadi?"

Jelas, aku menjawab tidak tahu. Ibuku lupa kalau aku ini bukan cenayang. Hahaha.

Ternyata ibuku bertemu dengan kepala SD dekat rumahku.

"Lho Mbak dengar-dengar larene (anak Anda) mau bantu saya di SD. Tak tunggu-tunggu sejak tahun lalu kok tidak ada datang." Begitu kata kepala SD itu yang direka ulang oleh ibuku.

Malam hari itu juga, aku langsung meluncur ke rumah kepala SD tersebut. Aku ingin memastikan, apakah benar kalau SDnya butuh guru kelas?

OK. Kabar gembira itu memang benar-benar datang kepadaku.

Bismillah, kuurus kepindahanku.

Perpisahan yang Menyakitkan


Pagi, Jumat, 14 Juni 2019, aku hendak menghadap kepada kepala sekolahku untuk mohon pamit terhitung mulai tahun ajaran baru. Tapi, kuurungkan, karena beliau sedang pusing dengan urusan salah satu guru.

Aku bertekad, pokoknya, setelah rapot kubagikan, aku harus segera pindah dari SDku ini.

Sabtu pagi, 15 Juni 2019, pagi-pagi, aku menghadap kepala sekolah dan mengutarakan maksudku. Beliau syok. Berat malah. Tak menyangka kalau akan ada kabar demikian. Tapi, aku tak mau goyah dengan keputusan awalku.

"Tolong jangan bilang dulu ke wali murid kalau kamu mau pindah. Nanti sini tidak dapat murid." pinta kepala sekolah.

Mendengar itu, aku kok campur aduk. Ini apa-apaan sih? Lucu sekali.

Sisa-sisa hari di sekolah, kuhabiskan untuk membereskan semua tetek bengek kelasku. Jumat depan pembagian rapot, Sabtu hari terakhir dan cus pergi.

Ternyata tak semudah itu, Kawan.

Kamis, sebelum pembagian rapot, kami semua menghadiri rapat dewan guru. Di kesempatan itu pulalah aku berpamitan secara resmi.

Aku nangis bombaaaaaaayyy, Kawan. Sumpah. Ingusku sampai ke mana-mana dan nggak ada yang ngasih aku tisu. Bwahahaha.

Sedih, iya, karena harus meninggalkan rumah keduaku setelah lima tahun di sana.  Tapi, lebih nyesek lagi saat aku tahu ada rumor yang beredar kalau aku pindah karena tidak terima atas kekalahanku dalam tes CPNS dan satu atap dengan CPNS yang lolos.

Alamak, sungguh, aku ingin salto. Betapa teganya orang yang mengatakan demikian. Tapi, kini aku sudah mengerti, pikiran orang tak akan pernah bisa aku kendalikan. Biarlah.

"Kalau ada kabar saya pindah karena tidak bisa terima kekalahan tes CPNS kemarin, tolong jangan diambil hati! Saya pindah karena alasan yang saya utarakan tadi." ucapku sok tegar dan kuakhiri dengan tangis yang pecah karena nggak nyangka pimpinanku sendiri punya pikiran seperti itu? *Ups

Aku sampai pernah berpikir, beginikah balasan pengabdianku selama 5 tahun di sini? *Nangis gulung-gulung*

Jumat, saat pembagian rapot, kuberanikan diri untuk pamit ke wali murid yang hadir di kelasku. Nangis? Nggak, kok. Kutahan dengan ndangak-ndangak (menengadahkan kepala ke atas). Wali muridku yang pada melow. Ada yang nangis juga, Mbak Dewi, ah, miss you.


Kini, hampir dua bulan, aku sudah di sekolahku yang baru, dekat dari rumah, bisa jalan kaki setiap kali berangkat dan pulang, sekolahnya di kecamatan, muridnya banyak, lingkungannya kukenal, dan alhamdulillah, insyaallah aku bisa membawa diri.

Memang, saat kita mau naik tingkat tuh ada saja rintangannya. Terpenting, insyaallah aku tidak menyesal telah mengambil keputusan ini.

Selamat tinggal gaji daerahku, selamat tinggal karier yang cemerlang, sampai jumpa Kawan-kawanku wiyata bakti, Kawan pejuang PPG dalam jabatan, Kawan tim pembuat soal PTS dan PAS.

Yah, semua memang harus kumulai dari nol lagi. Aku percaya, mutiara itu akan tetap berkilau di manapun dia berada. Semoga Allah memberikan kesempatan yang lebih baik lagi untukku. Bisa, kok, bisa! Tak ada yang harus dikhawatirkan. Allah ingin aku haus untuk belajar lagi. Tidak puas sudah jadi guru yang seperti ini. Terakhir, Allah tak suka aku berada di zona nyaman. Karena aku akan jadi orang yang sombong.

Jumat, 23 Agustus 2019

Kenapa Cari Info Seputar Kesehatan Si Kecil di SehatQ.com?



Dari 700an artikel yang kutulis di blog ini, yang paling banyak dikunjungi adalah postingan tentang kesehatan si kecil. Tak terduga, sih, untukku.

Berawal dari kesulitanku mencari informasi di internet, seperti saat menangani anakku demam, kolik, gumoh, diare, bahkan tak bisa kentut-lah yang membuatku ingin menuliskannya di blog ini. Ya, biar ibu muda nan baru di luar sana tuh kalau mau cari informasi nggak kelabakan sepertiku. Syukur alhamdulillah, ternyata sampai sekarang masih ramai dikunjungi, bahkan, bisa kusebut, artikel-artikel itulah penyumbang view terbanyak di blog ini per harinya.

Wajar sih, banyak ibu muda nan baru di luar sana yang mengandalkan internet untuk mencari info seputar kesehatan si kecil. Jelas, karena lebih praktis, informasi hanya dalam genggaman bisa didapat. Sedetik saja juga sudah dapat solusi. Selain itu, tidak semua tempat tinggal kita dekat dengan klinik, rumah sakit, atau bidan terdekat. Wong dekat dengan bidan saja belum tentu bidannya mudah ditemui. Iya, apa, iya?


Berbeda dengan dulu, sekarang, informasi tentang kesehatan si kecil ada di mana-mana. Ketik saja, "Biang Keringat", hoooo, informasi dari berbagai situs langsung bermunculan. Tinggal pilih mana yang paling pas dengan kondisi si kecil.

Saking banyak situs yang muncul, senang, iya, tapi, bingung pasti meliputi. Kira-kira situs yang kita pilih tepercaya nggak sih? Padahal kita butuh informasi yang tepat dan akurat untuk mengatasi gejala yang sedang dialami si kecil. Salah-salah, bukan membaik, malah makin parah. Amit-amit.

Tenang.

Ada salah satu situs yang kini bisa jadi rujukan saat mencari info seputar kesehatan si kecil, yaitu SehatQ.com. Adalah sebuah situs yang memiliki misi untuk membantu kita membuat keputusan dan mengelola seputar kesehatan keluarga. Insyaallah, semuaaaa ada di sana.

Setelah beberapa kali berkunjung, setidaknya ada 3 alasan yang bisa menjadikan SehatQ.com sebagai situs andalan bagi ibu muda nan baru di luar sana.

Apa sajakah itu?


Fiturnya Banyak dan Lengkap



Mau cari apa di SehatQ.com? Semuanya ada. Mulai dari fitur macam-macam penyakit, obat, artikel kesehatan, cari dokter, pilih rumah sakit, promo murah berobat, berbagai macam acara, sampai dengan forum diskusi dan tanya jawab dengan dokter secara langsung.

Aku cukup takjub saat tahu ada 2300an artikel kesehatan, 1219 ensiklopedia penyakit dan obat, 7329 dokter yang melayani saat kita butuh untuk konsultasi secara offline, dan 2141 rumah sakit dan klinik di SehatQ.com yang bisa kita pilih sesuai dengan jarak rumah kita.

Bukankah ini sangat memudahkan kita? Banget, malah.

Pengalamanku menggunakan fitur tanya jawab ke dokter, aku bertanya siang, sekitar pukul 14.00, alhamdulillah, tengah malam aku dapat email kalau pertanyaanku sudah dijawab dan tampil di situs SehatQ.com. Berikut penampakannya. Lumayan cepat, ya, responnya.


Tim Dokter yang Mumpuni



Melihat jumlah dokter yang sekian banyak, kira-kira, apakah mereka mumpuni? Coba deh cek saja secara langsung. Toh, dokter yang terdaftar namanya di sana tidaklah hanya dokter umum, melainkan juga dokter spesialis. SehatQ.com juga meyakinkan bahwa dokter-dokter tersebut merupakan dokter yang memiliki passion untuk memberikan pelayanan yang kredibel, tepercaya, dan mudah dimengerti penjelasannya.

Dari pengalamanku, setelah kutelusuri, untuk dokter yang bisa dicari dan kita bisa mengajukan jadwal konsultasi secara tatap muka adalah dokter yang ada di tingkat provinsi. Ini pengalamanku, ya, saat mengakses dokter di Jawa Tengah. Beda cerita untuk daerah lain. Agar nggak penasaran, coba deh cari dokter anak yang biasanya jadi langganan kamu. Terdaftar nggak di SehatQ.com?

Tim Editor yang Handal



Seringkali saat menemukan artikel kesehatan di berbagai situs, kemudian membacanya, kesan kaku sering kita dapatkan. Bahasanya terlalu formal dan sulit dimengerti.

Santai, berbeda dengan artikel di SehatQ.com. Coba deh baca salah satu artikel di sana. Bahasanya dikemas dengan apik, nggak kaku, dan tetap informatif.

Tak heran memang, karena di balik terbitnya postingan artikel di sana, ada tim editor, content writer, dan dokter yang meninjau artikel tersebut sebelum tayang. Jadi, wajar saja kalau artikel yang ada di sana memang relevan dengan apa yang dibutuhkan oleh kita.


Itulah 3 alasan kenapa situs SehatQ.com bisa kita jadikan rujukan saat mencari info seputar kesehatan si kecil. Pokoknya masukkan saja kata di fitur pencarian, maka akan muncul alternatif pilihan dari obat, artikel yang berkaitan, dan penyakit yang sejenis.

Yuk, segera kunjungi SehatQ.com! Atau kamu juga bisa mengikuti kabar terbaru di sosia medianya berikut ini.
Instagram : @sehatq_id
Twitter : @sehatq
Facebook : SehatQ




Minggu, 18 Agustus 2019

Guru Milenial Pakai ASUS VivoBook Ultra A412DA yang Super Tipis? Apa Jadinya?


“Walah, gaya banget. Kelas 1 SD re pakai LCD, kayak anak kuliahan saja.”

Baca komentar tersebut, aku kaget. Loh, memangnya ada yang salah?

Begitulah kesan yang kudapat saat aku posting foto proses pembelajaranku di facebook. Terlebih lagi, sangat kusayangkan, si pemberi komentar itu adalah seorang guru milenial juga, sepertiku. Bukan bermaksud menghakimi atau aku merasa lebih baik darinya, tapi, bukankah seharusnya memang tidak ada pembeda, mau itu anak TK, SD, atau bahkan mahasiswa, kalau tempat mereka belajar memiliki fasilitas laptop dan LCD, kenapa tidak proses pembelajaran dibuat semenarik mungkin?

Sebagai guru milenial (generasi Y), yang dilahirkan kisaran tahun 1980-1997, senjata paling ampuh yang harus kugunakan di kelas bukanlah kayu panjang (ukuran 1 meter dengan diameter 2 cm) lagi. Itu tuh, kayu yang biasanya digebukkan di atas meja untuk memaksa anak duduk diam memperhatikan. Melainkan, apa?

Kita lihat, siapa to yang saat ini jadi anak didikku? Mereka adalah yang lahir di atas tahun 2010, alias Generasi Alfa. Di dalam makalah Beyond Z: Meet Generation Alpha disebutkan bahwa Generasi Alfa akan lebih akrab dengan teknologi dibandingkan Generasi Z (padahal aku ini generasi Y, sebelum Z). Nah, kenapa tidak, kalau pembelajaran di kelas didesain sedemikian rupa dengan memanfaatkan laptop dan LCD? Bukankah itu ‘dekat’ dengan mereka?

Alasan apa lagi yang bisa kita gunakan untuk tidak menghadirkan teknologi dalam pembelajaran di kelas? Atau, mungkin inikah yang kita takutkan?

"Guru akan tergantikan oleh aplikasi."

Memang, banyak ahli mengatakan bahwa dengan berkembangnya teknologi lama-kelamaan peran guru di era digital ini akan tergantikan. Anak didik tak akan butuh kehadiran guru lagi. Lihat saja, sekarang ini bimbingan belajar online menjamur, seperti Ruangguru, Ruang Juara, Rumah Belajar, Rumah Juara, Quipper, Bimbel SMARRT, Kelas Kita, CBT Ujian Nasional SMP, dan masih banyak lagi lainnya, yang tinggal pegang gawai, unduh, sudah deh, tinggal belajar, nggak harus ada guru.

Eits, tunggu dulu.

Kurasa kehadiran guru akan tetap dibutuhkan kok. Sesuai akronim dalam bahasa Jawa, guru; digugu lan ditiru, sosok yang dipercaya dan diikuti.

Ini diperkuat dengan adanya Taksonomi Bloom yang masih dipakai di Indonesia, bahwa penilaian dalam pembelajaran itu meliputi ranah kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik (keterampilan). Okelah, yang kognitif bisa digantikan oleh aplikasi bimbingan belajar online atau perkembangan teknologi lainnyaTapi, yang afektif? Psikomotorik?

No no no.

Insyaallah, anak-anak tetap butuh kita, gurunya. Oleh karena itu, kenapa tidak kita berikan yang terbaik untuk mereka? Kenapa tidak kita 'ambil hati'-nya?

Jujur, baru 5 tahun jadi guru (honorer), aku merasa, Ya Allah, ternyata gini banget, ya. Tugasnya banyak, tanggungjawabnya segunung. Apalagi mereka yang sudah PNS.

Administrasi kelas yang segambreng, ada kalau 30 macam lebih, belum administrasi yang lain. Setiap hari, sepulang anak-anak, harus menyiapkan media, buat soal ulangan, atau tetek bengek untuk pembelajaran esok hari. Kemudian merapikan kelas, menyapu, ngepel pula. Hahahahaha.

Aku mau bilang, menjadi guru itu melelahkan, tapi, setiap hari aku kok makin jatuh cinta dengan profesiku ini.

Jatuh cinta rasa apaan ini? 

Benar kata sesepuh guru, profesi guru itu panggilan jiwa. Kalau hanya sekadar setengah hati, kuat sebulan saja, sudah syukur banget.

Aku jadi ingat anak didikku di sekolah baruku ini. Jumlahnya hanya 24, tapi, serasa 40 anak. Ada yang jalan ke sana-sini, naik meja, gangguin teman, ada yang nangis karena pensilnya patah, hahahahahaha. Semuanya ada.

Giliran di kelas ada layar gedhe, semua aman terkendali.

Giliran aku mengeluarkan gawai untuk menunjukkan gambar perempuan Ethiopia yang berleher panjang, mereka takjub, berebut karena antusias ingin lihat.

Yes, sebenarnya, segitu receh cara mengambil hati mereka. Apalagi kalau bukan memanfaatkan perkembangan teknologi?

Program Satu Guru Satu Laptop, Angin Segar, Tapi Kok Tidak Ada Keberlanjutannya?


Pada tahun 2009, pertama kali program Satu Guru Satu Laptop moncer di mana-mana. Tak tanggung-tanggung, surat kabar dipenuhi berita kabupaten ini dan itu, dari pelosok Timur ke Barat, membagikan laptop gratis untuk gurunya.

Ini lho sebenarnya contoh nyata kalau pemerintah peka akan kebutuhan guru di Indonesia.

Sayang, kini, program tersebut tidak ada baunya lagi. Padahal kebutuhan laptop bagi guru, kini, malah makin penting. Apalagi untuk guru milenial. Kalau menurutku, guru kok nggak bisa pakai laptop atau tidak punya laptop, dijamin tidak bisa berkutik. Siap-siap saja bakalan terlindas zaman.

Guru kencing berdiri, siswa kencing berlari. Bagaimanapun caranya, kelak, siswa memang akan lebih pandai dibandingkan gurunya. Akan tetapi, masak iya, sih, kita hanya berpangku tangan? Katanya profesi ini panggilan jiwa. Maka, guru harus mau belajar lebih banyak dan rajin lagi. Tidak bisa memakai laptop, belajar. Tidak punya laptop, ya, beli. Apa, iya, mau menunggu durian runtuh dari pemerintah?

Tak kupungkiri, banyak teman sejawat yang mengeluhkan begini,

"Gaji sebulan tidak cukup, Mbak, kalau buat beli laptop."

(((Laptop sekolah hanya sebiji kemudian dipakai bergilir)))

Blaik. Ini nyata sih di lapangan.

Lah iya, apalagi untukku yang baru jadi guru honorer. Percaya deh, kalau sudah niat, apalagi untuk media mencerdaskan anak bangsa, insyaallah akan ada jalannya.

Sekarang, toh banyak juga produsen laptop yang pintar membidik konsumen, salah satunya guru milenial. Banyak laptop yang harganya masih masuk akal, tapi spek-nya mumpuni untuk menghandle pekerjaan seorang guru. Salah satunya ASUS, perusahaan TI paling TOP di dunia.

Di tahun 2019 ini, ASUS menghadirkan ASUS VivoBook Ultra A412DA yang super tipis. Memang sih perangkat ini memakai prosesor AMD Ryzen 3000, tapi, performanya tidak kalah kok dengan intel. Pun kita bisa pilih mau varian prosesor AMD Ryzen 3 atau AMD Ryzen 5. Bisa kusebut, dibanderol dengan harga 6,5 jutaan, laptop ini murah, tapi, nggak murahan kok.

Nah, kira-kira nih, kalau sudah ada ASUS VivoBook Ultra A412DA, kolaborasi apa sih yang bisa dilakukan guru milenial agar kelas makin hidup, pun anak-anak makin kecantol sama kita?

Jadilah Guru yang Berkarakter



Aku masih ingat betul dengan nasihat dosen pembimbing utama skripsiku dulu, bahwa menjadi guru itu harus berkarakter. Apalagi kita adalah panutan anak-anak. Segala tingkah laku dan ucapan kita, dipercaya dan ditiru oleh anak didik.

Guru harus punya karakter pekerja keras dan tentunya cerdas di setiap saat. Jangan pernah gengsi untuk mengucapkan terima kasih dan meminta maaf apabila melakukan kesalahan.

Ada satu kejadian, saat aku menggantikan guru kelas 5, ada anak didikku bertanya tentang letak bagian lidah yang merasakan asin. Karena aku tidak yakin antara sebelah kiri atau kanan, aku pun meminta maaf dan memintanya untuk bersabar, agar aku bisa mencarikan jawabannya di internet dan esok hari memberitahunya.

Apa yang terjadi esok harinya? Dia sudah tahu jawabannya.

"Aku pinjam HP bapak, kucari di internet, Bu."

Untung saja, aku nggak asal jawab. Kalau sampai salah, apa jadinya? Anak didikku tadi akan mempercayai jawabanku yang asal-asalan. Nanti, kalau dia tahu jawaban yang betul dan jawabanku salah, bukankah rasa percaya anak tersebut ke aku malah berkurang? Ke mana karakter guru; digugu dan ditiru, ku?

Sejak itu, kuperbanyak membaca, membaca, dan membaca, terutama untuk materi yang akan aku sampaikan ke anak-anak. Pokoknya jangan sampai malu-maluin lah. Apalagi, pertanyaan anak-anak tuh sering tak terduga lho.

"Bu, kenapa astronot bajunya model gitu? Kan kelihatan gendut. Aku kalau jadi astronot, nggak mau ah pakai baju kayak gitu." Salah satu pertanyaan terpolos dari muridku kelas 1 SD.
Atau yang ini, saat melihat gambar perempuan Ethiopia yang berleher panjang.

"Itu mamaknya jahat banget ya, Bu. Lehernya pasti sakit. Bapaknya ke mana, kok dibiarin?!"

Kira-kira jawaban apa yang tepat? Hahaha.

Belajar, euy, belajar. Buka laptopnya, searching di Google. Kalau nggak ketemu? Cari terus, jangan putus asa! Hahaha.

Kalau berselancar memakai ASUS VivoBook Ultra A412DA yang sudah dilengkapi dengan desain ErgoLift mah enak. Karena desain ini membuat bagian laptop yang ada keyboardnya, saat dibuka, akan terangkat sebesar dua derajat. Ini membuat kita yang memakainya merasa nyaman walau lama mengetik. Mesin laptop pun tidak mudah panas. Kalau sedang berada di ruangan yang kurang cahaya, kita bisa mengubah tiga kali pencahayaan atau backlit keyboardnya.

Mau multitasking? Ya, mengetik, eh, mau buka Youtube, atau main game, santai, ASUS VivoBook Ultra A412DA ini mumpuni banget. Karena laptop ini memiliki prosesor AMD Ryzen™ 5 3500U dan dilengkapi grafis Radeon™ Vega 8.

Takut bakalan muser-muser saat mencari video atau sekadar informasi lainnya? Santai, nggak akan, kecuali jaringan pas jelek, ya. Karena kecepatan onlinenya sampai 867 Mbps. Pun, jangan khawatir kalau keyboard sering dipencet nanti akan cepat rusak! Laptop ini sudah dilengkapi chiclet keyboard yang teruji dengan daya tahan sepuluh ribu kali penekanan.

Jadilah Guru yang Mengenal Siswa Lebih Dalam 


Sudah mau mengenali diri sendiri sebagai guru milenial, itu bagus. Akan lebih baik lagi kalau kita mau mengenali, siapa to anak didik kita?

Generasi Alfa itu cenderung melek teknologi dan media, senang melakukan komunikasi efektif, bahkan bisa dibilang banyak bicara, kritis, senang diberi tantangan atau senang memecahkan masalah, dan berkolaborasi.

Aku sendiri merasa anak zaman Google Kids (sebutan lain untuk Generasi Alfa) tuh rasa ingin tahunya luar biasa banget. Apa saja ditanyakan, disentuh. Pokoknya kalau belum terjawab, dikejar terus.

Nah, seringkali saat laptopku di kelas, kutinggal sebentar ke kantor untuk ambil minum, pasti nanti ada yang laporan,

"Bu Ika, tadi Agung pencet-pencet laptop Bu Ika. Terus laptopnya nyala."

Kutahu, mereka sangat kepo dengan laptopku. Sesekali kupersilakan mereka untuk melihat dan mencoba memencet keypadnya. Hoooo, balasannya adalah senyum lebar mereka. Akan tetapi, namanya juga masih anak-anak, kutetap harus waspada, maka saat kutinggal, laptop harus kumatikan, nanti baru kunyalakan lagi. Jangan ditanya, proses bootingnya lama banget. Keburu waktu istirahat habis.

Berbeda kalau pakai ASUS VivoBook Ultra A412DA, karena sudah dilengkapi dengan sensor fingerprint yang terletak di bagian atas kanan touchpad. Laptop aman deh. Mau disentuh-sentuh, kalau bukan sidik jari si empunya kan semua data aman. Alias tidak akan terbuka.

Yang menarik lainnya dari touchpad  ASUS VivoBook Ultra A412DA, adalah cukup mengeklik ikon touchpad khusus, keypad akan berubah menjadi Numberpad yang memudahkan kita saat melakukan perhitungan.

Laptop ASUS VivoBook Ultra A412DA ini juga makin recommended karena sudah pre-install dengan Windows 10 asli. Tak ada  lagi yang namanya bajakan. Jadi, nggak heran kalau laptop ini makin aman saat ditinggal karena didukung fitur Windows Hello juga. Tampakin saja wajah kita di depan laptop, secepat kilat, laptop ini akan memindai dan sistem operasinya siap digunakan. Fingerprint OK, Windows Hello pun jalan.

Begini penampakan Windows Halo

Kembali ke soal karakter anak yang baik.

Bukan hanya perkara di atas saja, tahu karakter siswa secara mendalam akan lebih mempermudah kita untuk mengetahui kelebihan dan kekurangannya. Masing-masing pun punya gaya belajar yang berbeda-beda. Penting banget nih kita perhatikan, bahwa seorang anak tidak bisa dipukul rata dengan teman lainnya.

Aku punya murid namanya Nabiel. Dia itu membacanya sudah lancar banget, sedangkan Ipank, huruf alfabet saja belum hafal. Tidak mungkin dong kalau standar penilaian dan perlakuan belajarnya kusamakan. Inilah gunanya kita kenal  dan paham betul karakter anak didik kita.

Mampu Menciptakan Pembelajaran yang Sesuai Kenyataan




Masih pernah dengar kalau pembelajaran itu harus yang kontekstual atau nyata? Zaman now tidak lagi yang nyata, tapi harus sesuai dengan kenyataan. Bahkan disesuaikan dengan kebutuhan anak di masa yang akan datang.

Sayang saja, masih banyak lho buku pegangan guru yang tidak sesuai dengan kenyataan. Misal, ketika ada materi macam-macam suara benda di sekitar kita. Di buku ditulis suara HP itu kring kring kring. Padahal, zaman now, apakah masih ada HP yang bunyinya demikian? Kalaupun masih ada, seribu satulah, ya. Jelas, materi ini tidak sesuai dengan kenyataan zaman now.

Benar adanya kalau guru tidak boleh malas untuk selalu mempersiapkan secara matang pembelajaran yang akan dilakukan esok hari. Wong yang dipersiapkan secara matang saja pasti ada yang terlewatkan, apalagi yang tidak. Dijamin bedundukan (tidak sistematis)  deh dan anak-anak banyak yang kurang antusias, bahkan rewel, nangis.

Pernah ada kejadian, aku rebutan LCD sama guru lain. Dari siang hari sebelumnya, aku booking LCD yang hanya dua jumlahnya. E e e, esok hari, saat aku mau pakai, LCD sudah nggak ada di lemari. Ternyata di meja guru kelas 4, rebutan, ya, rebutan, deh. Tapi, akhirnya aku mengalah. Sadar diri karena katanya aku keseringan pakai LCD. *tepok jidat*

Akhirnya, ya, aku harus kerja ekstra. Nggak mungkin dong kalau pembelajaran kuganti dengan yang lainnya, karena aku sudah telanjur janji kepada anak-anak.

Mutar otak, kudesain ulang deh pembelajaran hari itu. Yang harusnya anak-anak tinggal nonton video pembuatan plastisin, kemudian tinggal ngikutin, ya, mau nggak mau harus per kelompok deh maju, kemudian melototin laptopku yang layarnya hanya seuprit, baru kemudian mempraktikkan proses pembuatan plastisin.

Wajar kan kalau aku ingin ganti laptop seperti ASUS VivoBook Ultra A412DA. Soalnya layarnya sudah memakai teknologi NanoEdge, yang luas banget, sampai 14'' dan serasa tak berbingkai. Pokoknya tipis banget, kemudian beratnya juga hanya 1,5 kg.

Guru milenial pasti suka nih yang ringan, tipis, performa kece, terus warnanya yang eye-catching. Kalau misalnya diminta memilih dari keempat warna yang ada, yaitu Slate Grey, Peacock Blue, Transparent Silver, dan Coral Crush, aku pilih yang Coral Crush saja deh. Nohok banget warnanya, ya, sesuai jiwa milenial.

Kubayangkan kalau aku pakai ASUS VivoBook Ultra A412DA ini di kelas, anak-anak pasti pada heboh penasaran. Tapi, paling nggak kalau pakai laptop yang satu ini, anak-anak lebih puas melihatnya, karena layarnya luas banget. Kemudian, kalau menonton video, suara yang keluar pun mantab. Bass nya lebih jedag-jedug dan tak ada suara bising kayak semut ngamuk. Teknologi ASUS SonicMaster memang tidak bisa diragukan lagi.

Apa kabar dengan baterainya? Jangan-jangan boros kalau dipakai untuk nge-game atau youtube-an?! Oh, tidak, baterai ASUS VivoBook Ultra A412DA ini diklaim awet banget, bisa seharian digunakan, karena baterainya 2 cell 37 Whr. Dari review youtuber Billy Dolmen, laptop ini saat dicas dalam waktu 49 menit sudah terisi 60%. Cepat banget, ya?!


Ajak Siswa untuk Gila Membaca



Aku nggak mau menjelaskan seberapa jeblognya minat membaca orang Indonesia. Aku hanya ingin menjadi bagian dari pejuang literasi di sekolahku.

Kurikulum 2013 ini kurasa bagus untuk saat ini. Sebelum pembelajaran dimulai, siswa diwajibkan melakukan budaya literasi. Seperti, membaca, mendengarkan dongeng, sampai menonton video. Sayang, di sekolahku tidak terlalu gencar budaya ini. Tapi, tidak papa, walau sendiri, aku akan berjuang terus.

Aku tidak akan pernah lelah untuk membacakan buku cerita ke anak-anak, setiap pagi. Seringkali aku mendongeng dengan ide cerita yang otodidak. Alhamdulillah, mereka antusias. Bahkan kalau aku lupa tidak bercerita, mereka yang nagih.

Syukur alhamdulillah, sekarang mudah sekali untuk mencari cerita khusus anak-anak. Tinggal ketikkan 'cerita anak usia 7 tahun', maka akan muncul banyak sekali pilihannya. Enak lagi, ini bisa memudahkan kita, tapi, dengan catatan di kelas ada LCD, tinggal unduh tuh video-video dongeng anak di youtube. Jangan takut jebol memorinya, kalau laptop yang kita pakai itu adalah ASUS VivoBook Ultra A412DA. Karena bisa muat sampai 512 GB (SSD)+ 1TB (HDD). Selain itu slot USBnya juga lengkap. Misalnya ada video di flashdisk, colokin saja, secepat kilat, data akan segera terbaca.

Catatan terpenting sebagai guru milenial adalah sebelum video yang kita unduh itu ditampilkan di depan anak-anak, kita harus menontonnya terlebih dahulu. Kira-kira videonya cocok nggak untuk anak-anak. Saat nonton, selingi dengan nasihat-nasihat.

Ah, sebenarnya menjadi guru milenial tuh enak, kok, ya. Kalau gadget bisa membuat mereka kecanduan, kenapa tidak, kita, guru mereka membuat mereka kecanduan juga? Kecanduan ke sekolah dan bertemu kita maksudnya. Hahaha.

"Ah, jadi guru itu melelahkan. Sering dikomplain keluarga karena tidak ada waktu untuk mereka."

Semua memang kembali ke niat kita, guru milenial. Kalau nurutin capek, ya, capek.  Kita harus dinamis, tapi, juga disiplin. Tugas seperti tidak ada habisnya. Permudah saja pekerjaan kita dengan adanya media yang mumpuni, seperti ASUS VivoBook Ultra A412DA. Laptop ini termasuk murah, ringkas, tipis, pilihan warnanya zaman now banget, performa juga mumpuni, tapi tetap bisa ditenteng ke mana-mana.

Eh, kamu, iya, kamu, nggak tertarik sama ASUS VivoBook Ultra A412DA ini?

Terakhir, pokoknya, kalau sudah nyemplung ke dunia guru, jangan tanggung-tanggung, ya!? Hajaaaaaarrr teruusss! Hai guru milenial, semangat ya! Lelah kita akan terbayar lunas dengan senyum lebar mereka.

Spesifikasi ASUS Vivobook Ultra A412DA
Layar
4.0″ (16:9) LED backlit FHD (1920×1080) 60Hz Anti-Glare Panel
Processor 
AMD Ryzen™ 5 3500U 4 Core 8 Thread Clockspeed hingga 3.7 Ghz
Grafis
Radeon™ Vega 8 Graphics
RAM
4 GB DDR4 2400MHz, Tersedia 1x Slot Upgrade Kapasitas Total 12 GB
Storage
SSD M.2 256 GB
Konektivitas
Combo BT 4.2 + Wi-Fi AC (2×2)
Webcam
HD 720p
I/O 
1 x COMBO audio jack
1 x Type-A USB2.0
1 x Type-A USB 3.1 (Gen 1)
1 x Type-C USB 3.0 (USB 3.1 Gen 1 / Gen 2)
1 x HDMI
Baterai    
2 Cell 37 Whr
OS
Windows 10
Fitur Unggulan
Illuminated chiclet keyboard (optional), Fingerprint, Windows Hello, Fast Charging, Asus SonicMaster.
Dimensi dan Berat
322 x 212 x 19.9 mm (PxLxT)
1.5 Kg Termasuk Baterai



Sumber bacaan:
https://www.asus.com/Laptops/ASUS-VivoBook-14-X412DA
https://jalantikus.com/tips/aplikasi-belajar-online-android/
https://www.koranbernas.id/berita/detail/menjadi-guru-milenial
https://www.nu.or.id/post/read/99445/guru-cerdas-di-era-milenial

Jumat, 16 Agustus 2019

Seberapa Keren Sih Si Vivo S1?


Seberapa Keren Sih Si Vivo S1? - Aku juga belum tahu, betul. Soalnya aku belum pakai sendiri gawai yang satu ini. Bermodalkan gratis kuota 20 GB tengah malam dari provider kesayangan, kutonton sekaligus unduh tuh review Vivo S1 dari 12 youtuber yang jadi langgananku. Santai, nanti akan kutulis secara rinci di bawah, ya. Biar kamu juga tahu, seberapa keren sih si Vivo S1 ini? Kalau ngiler kemudian tertarik beli, itu bukan salahku lho, ya.


Tidak ujug-ujug aku ingin ngepoin Vivo S1 ini. Buat apa coba? Wong, gawai yang kupakai saat ini pun masih termasuk anyar, baru awal tahun lalu kugenggam.

Ssssssttttt....sini-sini, kubisikkan cerita yang sebenarnya, kok, aku sampai ngepoin Vivo S1.

Semua berawal dari pertanyaan bapakku.

"Kuwi HP ne apik ora? Aku pengen tuku kuwi. (HP itu bagus, tidak? Aku ingin beli itu)", kata bapakku sambil menunjuk TV yang sedang menayangkan iklan Vivo S1.

Jujur, saat mendengar ucapan bapakku, aku nahan ketawa. Lha ada angin apa kok tiba-tiba bapak mau ganti HP? Padahal berpuluh-puluh tahun lalu, ya, beliau bahagia sentosa dengan HP jadulnya yang tulat-tulit itu. Pernah kutawari untuk ganti HP layar sentuh, tidak mau. Lha ini? Gaya banget pengen beli HP keluaran baru dari Vivo.

"Isin aku, Ka. Lha bakul-bakul ning pasar kae do nganggo HP layar sentuh kabeh re. (Aku malu, Ka. Semua pedagang di pasar memakai HP layar sentuh)." curhat bapakku.

"Apa iya, pas aku ikut ke pasar, pas pulang dari Solo, kok, ya, lihat masih banyak yang pakai HP kayak bapak?!" sanggahku.

"HP ne ki loro, siji layar sentuh, siji koyok ngeneki. (HPnya dua, satu layar sentuh, satunya lagi kayak gini)," kata bapak sambil mengangkat HP jadulnya.

Oh, begitu. Jadi, bapakku juga pengen pakai HP dua. Yang satu HP tulat tulit, satunya lagi HP layar sentuh, biar nggak ketinggalan dari teman-temannya?

Ehm, mikir.
Ini manusiawi kan untuk bapakku yang berusia di atas 50 tahun?
Hihihi.

Obrolan kami berhenti sampai situ. Aku hanya mikir, jadi, bapak mau ganti HP cuma mau gaya-gayaan saja, kah? Belum tentu juga bisa pakai HP layar sentuh. Lha, selama ini, pakai HP tulit-tulit, ya, untuk telepon doang. Kalau pakai HP layar sentuh apa nggak malah kesulitan? Salah-salah, ntar malah kepencet sana-sini, hadeh.

Begitulah ceritanya sampai aku ngepoin Vivo S1 di Youtube bahkan langsung cus juga ke websitenya vivo club. Oiya, sedikit bocoran nih, ya, vivo club adalah komunitas smartphone android vivo yang sering melakukan forum diskusi pengguna vivo. Bahkan di website tersebut, nggak hanya sekadar orang-orang yang terkumpul untuk forum handphone android, kemudian ngomongin masalah seputar HPnya, misalnya ada masalah ini itu, ternyata oh ternyata, mereka juga sering mengadakan gathering kemudian berbagi ilmu, seperti yang baru-baru ini dilaksanakan adalah belajar bersama teknik fotografi yang ciamik dengan HP. Keren banget, ya. Nambah networking, iya, skill pun juga terasah.

Oke, balik ke Vivo S1.

Berbekal keinginan bapak, pun sebagai bentuk bakti kepada orangtua (ceileeehh), orangtua pengen tahu bagus apa nggak si Vivo S1, ya, kucari kenal deh gawai yang satu ini.

Ada nasihat lama yang menyebutkan bahwa tak kenal maka tak sayang. Kalau buatku sendiri, wong sudah kenal saja bisa jadi nggak sayang, kan, ya? Yuk ah, kita cari tahu dulu, seberapa keren sih si Vivo S1 ini? Siapa tahu bakalan jatuh cinta dan langsung klepek-klepek nggak mau pindah ke lain hati lagi. Siapa tahu juga ntar bapakku benar-benar kepincut.

Aku mulai yaaaaa...


Kemasan Dus-nya yang Beda


Foto by dhiar.com
Siapapun kalau membeli suatu barang, pasti yang pertama dilihat kan kemasan luarnya, ya. Sekalipun ada nasihat yang mengatakan, jangan menilai sesuatu dari kemasannya doang! Iya, sih, betul, tapi kalau tampilan luarnya saja sudah menggoda, kan, ya, rasa penasaran untuk menguliknya lebih jauh tentu akan muncul.

Nah, berbeda dengan gawai keluaran Vivo sebelumnya, kalau Vivo S1 ini kemasannya lebih minimalis. Kalau biasanya disertai dengan gambar gawai, kali ini hanya ada logo vivo, huruf S besar, dan gambar screen touch ID yang tampak lebih kece. Di bagian belakang kemasan ada keterangan fitur utama dan info lainnya.

Desain yang Memanjakan Kita



Buka kemasannya, ternyata Vivo S1 ini tampil dengan warna baru dengan gradasi yang kalau dipegang, dimiring-miringkan, akan memberikam kesan warna yang cantik.

Ada dua varian warna, yaitu cosmic green (terinspirasi dari refleksi cahaya di cosmos, gradasinya dari ungu ke hijauan) dan skyline blue (terinspirasi warna biru di langit, gradasinya ada biru muda, putih, dan pink). Warna tersebut menggunakan teknik pelapisan nano-ion yang menggabungkan antara fashion dan alam.

Yang menarik dari Vivo S1 lagi adalah logo Vivo di bagian belakang dengan kesan warna emas. Lapisan gawai yang satu ini kesannya seperti dari kaca tapi enak dipegang.

Selain itu, di Vivo S1 ini sudah dilengkapi dengan smart button yang ada di sebelah kiri. Dengan sekali klik, maka Google Assistant akan aktif, sedangkan untuk mengaktifkan Jovi Image Recognizer tinggal klik dua kali.

Apa itu Jovi Image Recognizer? Ini adalah fitur yang paling disukai emak-emak. Misal lihat tas di mall, kok lihat bagus tapi harganya nggak cocok, coba cari aja di online shop. Caranya, tinggal foto saja tas tersebut. Dengan fitur Jovi ini, maka kita akan terhubung dengan berbagai platform e-commerce. Santai, fitur ini mencakup lebih dari setengah miliar produk kok. Jadi, jangan khawatir kalau produk yang kamu cari bakalan nggak ada. Ehm, aktivitas belanja-belanja makin mudah, bukan? Betapa kita sangat dimanjakan oleh Vivo S1 ini.

Tidak sampai di situ saja kita dimanjakan sama Vivo S1, gawai ini juga dilengkapi dengan triple sim card. Jadi, kita bisa memasukkan dua sim card dan juga menambah memori untuk gawai ini.

Screen Touch IDnya Caem Abis





Kata Mbak Gadget dari Gadget Empire, "Ada kayak kilatan petir-petirnya gitu."

Saat tangan kita menyentuh screen touchnya, maka akan muncul kilatan petir di sekitar area tersebut. Aku juga baru kali ini sih lihat ada efek screen touch seperti itu. Emang caem abis, alias keren banget.

Kalau biasanya kita pakai layar kunci, sidik jari di bagian belakang HP, atau pengenalan wajah kan biasa, ya. Nah, di Vivo S1 ini cukup dengan pakai screen touch atau mau digabungkan dengan pengenalan wajah juga.

Santai, tingkat kecepatan membukanya layar juga cepet banget kok. Manteb, begitu kalau kata Bang David dari GadgetIn.


Layarnya Kayak Lapangan




Buat kamu yang suka main game, scrolling instagram online shop, atau bahkan ngetik di HP, Vivo S1 ini cocok banget. Layarnya lebar banget cuy, sampai 6.38". Masih berponi, dengan rasio layar 19,5:9 dan rasio bodi-ke-layar hingga 90%.

Vivo S1 ini juga dilengkapi dengan fitur Super Amoled Ultra All Screen yang menjadikan tampilan layar bak nyata. Kalau warna hitam yang sepperti warna hitam sebenarnya. Bukan lain di layar lain di kenyataan.

Bagi kamu yang suka mengandalkan jam  di HP, bersyukurlah kamu ketemu dengan Vivo S1 ini. Karena HP yang satu ini juga dilengkapi dengan fitur Always On Display. Itu artinya, tanggal, hari, sampai urusan jam akan selalu tampil di layar tapi tetap hemat daya baterai. Fitur Always On Display ini bisa juga diganti-ganti lho. Jadi, kita yang lihat nggak bosan dengan model itu-itu saja.

Selfiemu Bakal Memuaskan



Aku tidak munafik, ingin selalu kalau difoto tampil cantik dengan wajah yang bersih dari jerawat atau flek hitam. Kamu juga, kan? Tentunya ini membuktikan bahwa kamera HP yang bagus adalah idaman setiap orang.

Vivo S1 hadir dengan menawarkan 32MP AI Selfie Camera, dengan fitur  AI Face Beauty, AI Selfie Lighting, AR Stickers, AI Filter, dan lain sebagainya. Bagaimana dengan kamera belakangnya? Ada fitur AI Triple Rear Camera, ada yang 16MP, 8MP, dan 2MP. Selain itu, kamera pada HP ini dilengkapi dengan kamera sensor Sony IMX499. Maka, tak heran jika hasil jepretan kamera HP ini begitu jelas, akurat, presisi dan tampak jernih. Cantiknya lagi, kamera belakangnya ini dikemas dengan tepi kayak emas-emas gitu.

Aku penasaran banget sama kamera depannya. Secantik apakah diriku jadinya? Hihihi.


Nggak Usah Rempong Bawa Powerbank


inet.detik.com

Siapa yang ke mana-mana nggembol powerbank? Kalau menurutku sudah nggak zamannya sih. Soalnya HPku yang kupakai inipun baterainya sudah lumayan banget. Tapi, masih kalah kok sama Vivo S1 ini. Karena hasil ujicoba Bang Bewok dari Pricebook, dengan 4500 mAh, HP ini bisa tahan 5 jam lebih untuk main game PUBG, pun tanpa nge-lag. Untuk pemakaian normal bisa sampai satu setengah hari.

Baterainya habis? Kan tahan lama nih baterainya, pasti nge-charge-nya lama. Tidak. Karena sudah ada fitur Dual-Engine Fast Charging. Jadi, kamu yang nggak bisa jauh-jauh dari Vivo S1, nggak perlu khawatir.

Nah, itulah kerennya Vivo S1 yang memiliki 4GB untuk RAMnya dan ruang penyimpanan internalnya besar banget, 128 GB. Ya, nggak perlu lah ya pusing-pusing beli micro SD lagi.

Terus, setelah baca, nonton, kemudian mereview Vivo S1, apakah HP ini cocok untuk bapakku?

Tidak.

Ini terlalu bagus.

Bahkan, aku ada ide untuk tukar tambah ke bapakku. Bapakku tetap beli Vivo S1, tapi untukku dan bapakku pakai HPku yang sekarang saja. Hahaha.

Baiklah, sekarang akan kupikirkan caraul untuk membujuk bapakku.

Kamu, kalau mau tahu lebih tentang Vivo S1 ini, langsung saja mampir ke laman sosial medianya berikut ini.

Instagram: vivoclub_indonesia
Facebook Fan Page: Vivo Club Indonesia
Youtube Channel: Vivo Club Indonesia
Forum: vivoclub.id

Soal harga? Langsung kepoin ke online shop favorit kamu, ya.