Sabtu, 11 Mei 2019

3+1 Hal Ini yang Membuatku Tergiur Promo Belanja Online


Berbagi parsel, hadiah, atau salam tempel di hari lebaran itu seperti jadi tradisi orang Indonesia. Makanya, walau bulan ramadan baru saja datang, ibu-ibu sudah mulai pening. Bahkan sebulan sebelumnya sudah ancang-ancang beli baju untuk lebaran. Hahaha.

Duh, salah kaprah nggak sih?


Dalam hati, pokoknya harus punya uang sekian, terus bisa dipakai untuk ini dan itu. Pengeluaran harus benar-benar hemat agar bisa membeli semua kebutuhan.

Alhasil, jurus irit ibu-ibu muncul. Salah satunya adalah dengan cara (terlalu) sering mengintip online shop untuk berburu promo belanja online. Ada juga yang seperti ini?

Aku.
Aku.
Aku.
Kamu?

Akan tetapi, ternyata tidak mudah lho berburu promo belanja online. Karena kalau salah taksir, nanti malah jatuhnya lebih mahal dibandingkan belanja di toko dekat rumah.

Nah, ada beberapa hal yang kuperhitungkan saat berburu promo belanja online.

Gratis ongkos kirim
Aku kan tinggal di Demak, kalau belanja di Jakarta, ongkos kirimnya bisa sampai 24 ribu. Bahkan ada yang sampai 27 ribu. Itupun kalau belanjanya hanya sekilo. Kalau berkilo-kilo, apa kabar? Makanya, aku paling senang kalau online shopnya ngasih gratis ongkos kirim.

Harganya lebih murah dibandingkan di toko dekat rumah
Lah iya, ngapain belanja di online shop kalau di toko sebelah ada dan harganya lebih miring? Walau promo belanja online di mana-mana, aku masih pegang prinsip, kalau di dekat ada dan bisa pilih langsung, pun harganya tidak terlalu jauh beda, kenapa tidak beli di tempat tetangga saja?


Pengalaman nih, di minimarket kuintip Veet harganya 29 ribu. Kemudian di salah satu online shop lagi ngadain promo belanja online dengan memberikan gratis ongkos kirim tanpa minimal belanja. Kucoba deh check out, eh, ternyata gratis ongkos kirimnya bersyarat, yaitu maksimal. Jadi, aku tetap bayar ongkos kirim 7 ribu, dan harga produknya 22 ribu. Nah, jatuhnya harganya di minimarket sama online shop kok sama saja. Ya mending aku beli ke minimarket lah. Langsunh dapat produknya.

Beda lagi saat aku beli Veet di Lazada. Harganya di minimarket kan 29 ribu. Di Lazada, lagi ada promo beli 3 hanya 64.900 kemudian dapat buku jurnal pula. Ini baru untung berlipat-lipat. Emak-emak bahagia

Barang tidak ada di toko sebelah
Pasti ada beberapa barang yang tidak dijual di toko sebelah. Misalnya, sabun mandi Velvy yang kupakai. Jalan satu-satunya ya beli secara online. Apalagi sabun mandinya memang punya efek yang bagus untuk tubuh. Semenjak pakai sabun kambing ini, eksim di punggung Kak Ghifa jadi kabur. Alhamdulillah.

Proses pembayaran bisa COD
Sayang, tidak semua online shop memberikan fitur pembayaran COD. Ada juga yang bisa COD tapi untuk JABODETABEK. Satu yang paling favorit, online shop yang selalu bisa bayar secara COD itu JD.ID. Makanya, aku sering belanja di sana. Kalau memang terpaksa butuh banget barangnya di online shop lain yang tidak ada fitur COD, kupilih yang bisa membayar di minimarket. Itupun dikenakan biaya jasa sekitar 2.500. Ehm, dapat sekotak susu UHT Kak Ghifa ya. Hihi.


Semua syarat di atas terpenuhi, apakah kemudian jadi hobi banget berburu promo belanja online? Jelas tidak. Prinsip kebutuhan atau keinginan tentu harua tetap kuutamakan. Satu yang membuatku untuk berpikir ulang untuk belanja online adalah, kapan mau bayar asuransi pendidikan Kakak kalau belanja mulu? Hahaha.

Nah, kalau kamu, apa yang membuatmu tergiur dengan promo belanja online? Atau mungkin, kamu punya barang incaran dan menungu promo belanja online?

Papua Butuh Guru yang Peduli



“Tin tin…tin tin tin…,” laki-laki berjaket oranye yang ada di depanku itu menyapa segerombolan anak SD. 

“Assalamualaikum, Pak.” Kompak, anak-anak itu menyapa beliau sambil melambaikan tangan.

Bulu romaku seketika berdiri.

Aku baru ingat, laki-laki berjaket oranye ini adalah guru purnabakti yang sering bersimpangan denganku ketika berangkat ke sekolah. Ternyata, dulu, beliau mengajar di SD ini to, batinku.


Satu yang membuatku kagum kepada sosoknya, yaitu berkali-kali, beliau membunyikan klakson motornya setiap kali bertemu dengan (mantan) anak didiknya. Tak pandang bulu, baik itu anak didik yang sudah duduk di kelas tinggi maupun rendah, semua dengan kompak menyapa kembali gurunya.

Seketika, aku menebak, ini guru pasti sangat diidolakan oleh anak didiknya. Pun, beliau juga tidak jaim. Nyatanya sepanjang jalan, beliau selalu menyapa mereka sekalipun ada yang tidak menjawab sapaannya, karena tidak mengetahui kehadirannya.

Aku, berstatus guru juga, ketika bertemu dengan anak didikku yang sudah lulus saja kadang malas menyapa. Biar mereka dulu lah. Iya, kalau mereka masih ingat aku sebagai gurunya. Kalau tidak? Begitu pikirku.

Ah, laki-laki berjaket oranye ini begitu inspiratif. Kuyakin, Indonesia sangat butuh guru sepertinya. Guru yang sangat peduli kepada anak didiknya, meskipun kepedulian itu dalam hal yang sering kita anggap sepele.

Guru yang Peduli itu, Harus!

Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama yang pernah menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta pernah berujar dengan tegas, "Kalau tidak peduli terhadap murid-muridnya, saya minta diberhentikan saja sebagai guru. Kalau guru tapi hatinya enggak mau jadi guru, ngapain? Mending ngurus kuburan aja. Saya masih bisa cari guru les."

Kesan ungkapan Ahok begitu arogan. Tapi, memang harus demikian, bukan? Karena guru memang harus peduli kepada anak didiknya. Peduli secara fisik maupun psikisnya.

Jangan heran, beginilah cara Pak guru David mensimulasikan mandi dengan sabun. Dulu, mereka tidak bisa membedakan antara berenang dan mandi. Tapi, karena guru yang peduli, semua mulai berubah.
Sumber foto dari instagram Pak David @david.prabowo

Karena guru yang peduli itu,
Tahu apa yang dibutuhkan oleh anak didik.
Tahu bahwa tugasnya tidak hanya menyampaikan materi pembelajaran.
Tahu karakteristik anak didik. 
Tahu di mana dia berada.
Paham apa yang harus dipelajari dan dibutuhkan oleh anak didiknya.
Bisa menjadi panutan dan mengayomi anak didik.
Mampu menciptakan kegembiraan.
Mampu menciptakan keamanan dan kenyamanan.
Mau mengabdikan diri.
Memiliki loyalitas tinggi di dunia pendidikan.
Memberikan harapan untuk mereka yang 'bermasalah'.
Dan guru yang peduli akan mampu menarik hati anak didiknya sehingga akan memudahkan proses pembelajaran. Bukankah saat anak didik 'tertarik' dengan gurunya, itu akan memudahkan anak-anak untuk memahami apa yang disampaikan oleh guru?

Menjadi guru yang peduli itu memang tidak mudah. Banyak godaan. Diremehkan. Dicaci maki. Dikira cari muka. Padahal guru yang peduli rela berkorban lelah jiwa dan raga untuk secercah harapan untuk generasi gemilang negeri ini.

Benar kata seorang sahabat, Mas Ulil namanya, guru yang peduli di SD Inpres Kulur, Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, "Kita harus tetap semangat jadi guru yang peduli. Tetap dipaksa untuk ikhlas. Wajib. Bukan seberapa besar yang kita dapat, tapi seberapa besar yang kita beri, dengan kesungguhan hati. Idealnya, kita mencontoh yang baik. Akan tetapi, jika di sekitar kita tidak ada contoh yang baik, berarti kita sendiri yang melakukan kebaikan itu. Syukur-syukur akan dicontoh yang lain. Bukan mengharapkan ke-ria-an, tapi mengharap kebaikan itu menular sehingga kita tahu ada yang berjuang bersama-sama untuk melakukan kebaikan itu, bukan hanya kita sendiri."

Apakah kita termasuk guru yang peduli itu? Aku? Ah, masih jauh dari kata peduli. Tapi, yakin, kita pasti bisa!

Mas Ulil bersama anak didiknya. Tetaplah jadi guru yang peduli. Di mana pun kita berada. Yes?!
Foto dokpri Mas Ulil


Berilah Papua Guru yang Peduli, Peran Serta Pemerintah, dan Program Guru Pelosok

Kenapa Papua?

Menurut Lisa Duwiry -seorang aktivis muda yang berasal dari Papua- yang kulansir dari suara.com (2019), pendidikan di Indonesia memang sudah mengalami kemajuan. Akan tetapi, belum merata. Karena di Papua, hampir 40% anak-anak mengalami buta huruf. Bukankah angka tersebut sangat memprihatinkan?

Kepala Staff Kodam XVII/ Cendrawasih Brigjen TNI Irham Waroihan saat FGD di Markas Besar Angkatan Darat Jakarta menambahkan, bahwa pendidikan di Papua mengalami ketertinggalan bukan hanya perkara kurangnya sarana dan prasarana saja. Melainkan karena mindset warga yang belum menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama. Mereka berkeyakinan untuk apa sekolah, lebih baik pergi ke ladang agar bisa makan.

Anak-anak tetaplah anak-anak. Haknya sama. Seperti halnya berteduh di langit yang sama. Kenapa keadaan harus berbeda?
Foto dokpri Mas Ulil

Padahal, anak-anak Papua itu tidak bodoh. Mereka sama dengan anak-anak Indonesia lainnya. Mereka hanya kurang beruntung atas nama keadaan. Toh, kabar terbaru yang kulansir dari papuanews.id, ada anak muda asli Papua, yaitu Sherina Fernanda Msen, yang mengeyam pendidikan di Universitas Corban Oregon Amerika Serikat telah berhasil lulus dengan predikat Magna Cum Laude atau predikat kehormatan. Bukankah ini membuktikan, bahwa anak-anak Papua juga memiliki kesempatan masa depan yang gemilang, apabila memiliki keadaan yang sama dengan yang lainnya?

Satu lagi faktor penunjang ketertinggalan pendidikan di Papua, yaitu kurangnya tenaga guru. Mungkin, banyak guru yang belum terketuk pintu hatinya untuk mau menjadi guru yang peduli terhadap anak-anak Papua. Karena untuk mengajar di pedalaman sangatlah berat dan butuh modal yang besar. Ini tak sebanding dengan apa yang diterima oleh guru, sebut saja gaji.

Alhamdulillah, angin segar pun datang.

Langkah besar dan patut kita acungi jempol, dalam rangka bangun perbatasan jadi terasnya Indonesia di tahun 2019 ini (Mei 2019 mulai terjun), pemerintah mengirim 900 prajurit TNI-AD untuk menjadi guru pengganti setelah mengikuti pelatihan sebelumnya. Mereka akan menjadi guru bagi anak-anak Papua, selama belum ada guru tetap.

Merinding nggak sih, sebanyak itu lho prajurit TNI-AD mengabdikan dirinya. Kita (eh, kita) sudah melakukan apa untuk negeri ini?

Pemerintah memang tak sendiri, pun tidak bisa berjuang sendiri agar bisa mewujudkan perubahan untuk Indonesia yang lebih baik. Anak muda bangsa ini pun banyak yang tergerak hatinya untuk ikut serta membangun Papua dengan caranya. Satu diantaranya lewat program guru pelosok. Banyak sekali macamnya. Diantaranya:
  • GGD (Guru garis depan), ini adalah program pemerintah, akan tetapi, kabarnya sudah ditiadakan. Tolong koreksi kalau aku salah informasi.
  • Indonesia Mengajar, saat ini sedang ada pembukaan untuk yang ke 19. Siapa tahu ada yang mau ikutan?
  • 1000 Guru
  • Komunitas Jendela
  • Indonesia Menyala
  • Skholatanpabatas (STB)
  • Sure Indonesia
  • Akademi Berbagi
  • Guru Penggerak Daerah Terpecil
  • Komunitas Jalan Bagi
  • Dan mungkin masih banyak lagi yang belum terekspos oleh media.
Semua program guru pelosok di atas diperuntukkan untuk anak muda Indonesia. Tidak harus yang lulusan guru. Kalau kamu tertarik salah satu di antaranya, kamu bisa cari informasi detailnya di sosial media.

Mimpiku untuk berbagi di pelosok negeri memang tidak terlaksana. Tapi, aku selalu mendapat kekuatan setiap kali melihat potret-potret kawan yang berjuang di sana.
Foto dokpri Mas Ulil

Dulu, saat aku masih kuliah dan baru kenal salah satu program guru pelosok, yaitu Indonesia Mengajar, aku adalah kompor bagi teman-temanku. Aku mengajak mereka untuk sungguh-sungguh kuliah, berjuang, agar kelak saat lulus kuliah bisa ikut program tersebut dan mengajar di pelosok negeri. Bertemu dengan anak-anak negeri yang belum beruntung.

Sayang, mimpiku itu pupus oleh tangis pilu ibuku, "Kamu anak satu-satunya, Bapak Ibu. Kalau kamu pergi, Bapak Ibu terus piye (bagaimana)?"

Alhasil, aku tetap di sini, dan berjanji akan tetap mengabdikan diriku sebagai guru. Mungkin memang tidak ke pelosok negeri. Saat ini di pelosok desa pun tantangannya begitu luar biasa. Bismillah, di manapun kita berada, wajib hukumnya untuk selalu berusaha menjadi guru yang peduli. Kamu, yang memiliki kesempatan untuk mengabdikan diri ke pelosok negeri, hajar terus!

Korindo dan Papua

Pernah mendengar Korindo? Adalah sebuah perusahaan non-publik yang berasal dari Korea. Perusahaan ini mulai masuk ke Indonesia pada tahun 1969 dan bergerak di bidang perkayuan di Kalimantan. Kemudian, perusahaan ini tidak hanya mengelola hutan industri yang luas di Kalimantan, tapi juga melakukan diversifikasi ke bidang lain, seperti industri berat (antara lain konstruksi turbin dan bus), keuangan, dan real estate.

Korindo termasuk dalam perusahaan terdepan di berbagai industri di Asia Tenggara. Visinya perlu diapresiasi, yaitu membangun hubungan yang harmonis antara kegiatan bisnis perusahaan dengan masyarakat dan pemangku kepentingan terkait lainnya, yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian secara terus-menerus.

Kenyataannya, di tahun 1993, Korindo mulai masuk ke Papua. Sepak terjangnya di sana membawa angin segar bagi penduduk setempat, khususnya di bidang pendidikan, dengan memberikan beasiswa kepada 2.500 siswa dari SD-Universitas, pemenuhan fasilitas sekolah, pembangunan 20 gedung sekolah, 25 bus sekolah hingga menyiapkan honor bagi 179 guru-guru di daerah terpencil.

tampilan website korindo.co.id
Terbaru, di tahun 2018 lalu, Korindo membangun dua asrama khusus pelajar yang berasal dari Kampung Taga Epe, Kampung Ihalik, Kampung Nakias dan Kampung Salam Epe Distrik Ngguti. Asrama ini letaknya dekat dengan perusahaan. Tujuannya, agar anak-anak dari karyawan bisa tetap sekolah dan jarak tempuh ke sekolah tidak terlalu jauh. Karena kebanyakan dari mereka tinggal di daerah pedalaman. Orangtua sibuk bekerja, anak-anak tetap sekolah.

Peran Korindo sangat besar di Papua. Tidak hanya fokus ke anak-anak Papua, selaras dengan visi yang diusung, Korindo juga mengedukasi warga setempat untuk menanam sayur dan menyediakan lahan untuk menanam padi. Tak heran kalau perusahaan ini menyabet berbagai penghargaan bergengsi.

Tentu banyak sekali peran Korindo untuk Papua di bidang lain. Kamu bisa cari tahu langsung di website atau akun sosial medianya. Terpenting, besar harapanku, banyak perusahaan-perusahaan lain yang juga tergerak hatinya untuk ikut membangun Papua lewat dunia pendidikan. Karena kita tahu, dengan pendidikan, SDM (sumber daya manusia) Indonesia yang lebih berkualitas bisa tercipta. Kalau SDMnya berkualitas, tentu akan memberikan efek ke bidang lainnya, seperti perekonomian warga yang meningkat.

Nah, untuk kita, yang saat ini belum bisa berkontribusi secara langsung untuk Papua, khususnya di dunia pendidikan, paling tidak, kita berusaha semaksimal mungkin untuk menjalani kehidupan kita saat ini. Ciptakan SDM yang mumpuni dalam diri kita. Ingat, bukan apa yang kita terima dari negeri ini, tapi apa yang sudah kita beri?

Potretku saat melayani anak-anak.
Foto dokpriku

PR besarku, kini, aku tak boleh lelah untuk menjadi guru yang peduli. Karena guru yang peduli sesungguhnya tidak hanya dibutuhkan di Papua saja. Di manapun. Untuk mencetak anak-anak bangsa yang berkualitas, baik itu di ranah akhlak ataupun intelektual. Bismillah, guru yang peduli untuk Papua, guru yang peduli untuk Indonesia.




Bahan bacaan:

https://megapolitan.kompas.com/read/2016/01/19/14015171/Ahok.Berhentikan.Saja.Guru.yang.Tidak.Peduli.pada.Muridnya
https://nasional.kompas.com/read/2012/11/26/0537173/pendidikan.perlu.guru.yang.serius.dan.peduli
https://mediaindonesia.com/read/detail/222642-pendidikan-di-papua-butuh-solusi-luar-biasa
https://www.idntimes.com/life/education/pinka-wima/program-guru-pelosok-yang-wajib-diikuti-anak-muda
https://www.korindo.co.id/beasiswa-korindo-untuk-anak-bangsa
http://www.rri.co.id/post/berita/385841/ruang_publik/csr_korindo_group_papua_bantu_pendidikan_anakanak_kurang_mampu.html
https://www.pasificpos.com/item/23932-bangun-asrama-pelajar-wujud-kepedulian-perusahaan
http://csr-indonesia.com/2016/11/02/ada-untuk-asiki-sekelumit-sejarah-47-tahun-korindo-di-papua/
https://papuanews.id/2019/05/05/satu-lagi-putri-asal-papua-berhasil-ukir-prestasi-di-amerika/

Kamis, 09 Mei 2019

Resep Soto Ayam Segar Anti Gagal


Kalau ditanya, apa masakan ibu yang paling ngangenin? Aku akan menjawab, soto.

Soto masakan ibu tidak pernah ada yang bisa nandingin. Termasuk soto buatan Pak Mul yang pernah kuceritakan di sini.

Berkali-kali aku mencoba resep soto ayam segar ala ibu, berkali-kali juga aku gagal. Pernah, rasa kuahnya sengur, karena aku menumis bumbunya kurang matang. Pernah juga, kebanyakan kunyit.


Dari kesalahan-kesalahan itulah, aku jadi tahu kalau memasak itu memang tidak mudah. Butuh proses dan kudu mau belajar. Akan tetapi, aku percaya, ibarat menulis, memasak itu bukan bakat. Kita bisa pandai memasak kalau setiap hari mau terjun ke dapur.

Nah, kamu-kamu yang belum bisa memasak enak untuk suami, santai. Nikmati saja prosesnya. Aku ngerasa cukup lihai di dapur tuh ya setahun terakhir ini. Pun juga kadang sering bikin kesalahan kok. Asin lah, hambar, bikin adonan nggak jelas bentuknya, masak rebung nggak pakai direbus air panas yang berakhir pahit. Hahaha. Kalau ingat malah pengen senyum-senyum sendiri.

Untuk latihan kamu, nih, aku share resep soto ayam segar anti gagal. Jangan lupa dicatat di buku resep ya. Daripada buka-buka blogku mulu. Tapi, kalau mau memyumbang PV untuk blogku ya nggak papa sih. Hahaha.

Bahan:
1/2 kg dada ayam
1/4 kg Kecambah
Bawang goreng (secukupnya)
Kecap manis
2 Bihun 
1 batang onclang 
1 batang seledri (potong tipis-tipis)
1 buah tomat (potong jadi 6 bagian)
1 buah jeruk nipis (potong jadi 4 bagian)
Minyak goreng untuk menumis
1,5 liter air


Bumbu yang dihaluskan:
3 siung bawang putih
3 siung bawang merah
1/2 sendok makan merica
1/2 sendok makan ketumbar
Sejempol kuni
1/2 jempol kencur
1/2 jempol jahe
1 sendok makan gula
1 1/2 sendok garam
1/2 jempol jahe
Sejumput jinten

Bumbu yang tidak dihaluskan, dimasukkan ke dalam kuah:
1/2 jempol laos
5 lembar daun jeruk
3 lembar daun salam
3 biji cengkeh

Bumbu sambal:
Cabai rawit 5 dan 5 cabai merah, direbus, uleg secara kasar

Cara memasak:
  1. Ulek bumbu yang harus dihaluskan.
  2. Panaskan minyak dan tumis bumbu sampai harum. Jangan lupa sertakan laos, daun jeruk, daun salam, cengkeh, dan tomat. Pastikan bumbu sudah masak betul, kalau tidak nanti sengur alias tidak sedap. Cirinya klu sudah matang, bumbu dan minyak mulai memisah dan aroma harumnya keluar.
  3. Masukkan dada ayam, kemudian tambahkan air. Koreksi rasa kuah dan tunggu sampai dada masak.
  4. Setelah dada masak, angkat, kemudian goreng dan suwir-suwir.
  5. Panaskan air lagi, rebus kecambah dan bihun. Angkat, tiriskan.
  6. Sajikan soto ayam segar dengan komposisi, kecambah, bihun, ayam suwir, onclang, seledri, bawang goreng, sambal, kecap, perasan jeruk nipis, kemudian siram dengan kuah soto ayam segar saat masih panas.


Paling jempolan itu, pas makan soto ayam segar ini kuahnya panas ditambah sambal dua sendok. Mantab. Kalau lagi flu, insyaallah, kabur.

Kalau hari ini masih bingung mau masak apa, yuk, bikin soto ayam segar! Jangan pernah takut gagal untuk mencoba resep soto ayam segar ini! Apalagi yang baru menjabat sebagai istri, kalau kamu tidak pandai memasak, jangan sungkan untuk terjun ke dapur! Enak nggak enak, suami akan kecantol kok sama masakan buatan kita, istrinya. Lha onone kuwi.

Rabu, 08 Mei 2019

Menu Sahur Andalanku, Pecel Sambal Skippy dan Tempe Udho


Andai bisa meminta sama Allah, aku ingin sekali ramadanku saat ini seperti dua tahun lalu. Sahur bisa bersama dengan keluarga secara lengkap. Ada abi, ibu, dan bapak.

Tahun kemarin masih mending, ada suami. Sekarang, hanya aku dan TV.

Menu sahurku
Saat sahur di hari pertama, kemarin, ah, cuma sahur, apa salahnya kalau sendirian? Toh, masih ada Kak Ghifa, meskipun dia tertidur nyenyak dalam buaian alam mimpinya.

Tapi, tak bisa kubohongi, ternyata terselip rasa pilu dalam hatiku. Ya Allah, aku sahur sendiri. Abi, ibu dan bapakku sudah di jalan untuk mengais rezeki.

Sabtu lalu (4/5) adalah hari terakhir abi mengerjakan proyek pintu. Karena belum ada proyek lagi, daripada menganggur, abi memilih ikut jualan bersama bapak dan ibu di pasar kremnyeng Semarang dan berangkat dari rumah pukul 02.00 WIB.

Alhasil, aku pun tambah kesibukan. Setiap selesai tarawih, aku harus masak lagi untuk persiapan sahur. Kira-kira menjelang pukul 22.00 WIB, alhamdulillah semua sudah selesai. Tidur, bangun lagi nanti pukul 02.00 WIB untuk menyiapkan bekal sahur abi, bapak, dan ibu.

Berhubung aku lagi menerapkan food combaining, ya, meskipun nggak saklek-saklek banget lah, tapi urusan menu sahurku lebih gampang dan tidak memakan waktu lama untuk memasaknya. Terpenting, ada buah dan sayur, semua lebih mudah.

Satu lagi yang mempermudah sahurku adalah adanya sambal yang sudah kusiapkan di kulkas. Yaitu, sambal skippy (sambal pecel). Sambal ini jadi andalanku di setiap kesempatan. Cara membuatnya pun gampang banget.

Selai skippy andalanku

Resep Sambal Skippy
Bahan:
20 buah cabai rawit 
15 buah cabai merah
5 siung bawang putih
5 siuang bawang merah
Sejempol kencur
3 lembar daun jeruk
Setengah sendok teh terasi
1 1/2 sendok makan garam
1/2 sendok makan gula pasir
1 1/2 butir gula merah
4 sendok selai skippy
4 sendok makan minyak goreng

Cara membuat:
  1. Rebus di air mendidih bahan-bahan berikut: cabai rawit, cabai merah, bawang putih, bawang merah, kencur, dan daun jeruk selama 5 menit.
  2. Angkat, tiriskan. Taruh di cobek dan tambahkan garam, gula pasir, dan gula merah. Ulek sampai halus.
  3. Panaskan minyak goreng. Masukkan sambal dan skippy. Goreng sampai matang. Tanda sambal sudah matang adalah baunya sudah keluar dan antara minyak dan sambal terpisah. Jangan lupa koreksi rasa. Tunggu hingga dingin baru kemudian masukkan ke dalam toples/wadah tertutup dan bisa disimpan di kulkas.

Begini penampakan sambal skippy

Mudah kan bikinnya? Tidak perlu capek-capek mengulek kacang. Karena yang paling bikin males pas bikin sambal kacang tuh ya pas mengulek itu. Sekarang, sudah kenal skippy, waktu mengulek makin singkat.

Soal rasa? Skippy ini kacang banget lho. Tekstur selainya juga lembut. Kalau kamu ingin membuat sambal kacang dengan tekstur agak kasar, ya, tinggal menguleknya jangan terlalu halus saja.

Nah, kalau mau bikin menu sahur yang simpel tapi tetap sayur nomor satu, tinggal kukus selama 5 menit aja tuh sayuran yang ada di kulkas. Kemarin aku ada kol, kacang, bayam, dan kecambah. Kutambah bihun sebagai pengganti nasi, jadilah menu sahur andalanku, pecel sambal skippy.

Sayur lengkap, bihun, tempe udho, dan sambal skippy


Oiya, ada yang penasaran, apa itu tempe udho? Itu lho tempe biasa yang digoreng tanpa tepung. Paling enak dimakan selagi hangat. Cara bikinnya pun mudah.

Resep tempe udho
Bahan:
Tempe, belah tengahnya tapi jangan sampai putus agar bumbu meresap
Setengah sendok teh ketumbar
2 siung bawang putih
1/2 sendok makan garam
Air secukupnya

Cara membuat:
  1. Haluskan bawang putih, ketumbar, dan garam. Beri air, koreksi rasa.
  2. Rendam tempe ke dalam bumbu. Tunggu 10 menit.
  3. Kemudian goreng dalam minyak panas dan pastikan tenggelam dalam minyak. Tempe akan matang dengan tekstur krispi di pinggirnya.

Menu sahur andalanku, pecel sambal skippy dan tempe udho pun siap disantap. Rasa sambal skippy yang manis, asin, dan pedas pun menggoda semangatku. Mau dicocol atau disiram, monggo, teeganrung selera.

Kalau ada yang bilang bahwa makanan itu bisa membangkitkan semangat kita itu memang benar adanya ya. Melihat menu yang menggoda, huuuu, siapa yang ogah sahur meskipun sendirian? No no no.

Nah, untuk kamu yang saat ini bisa menikmati kebersamaan saat sahur dan berbuka, jangan lupa untuk selalu bersyukur atas nikmat Allah. Jangan lupa juga berdoa, semoga di ramadan berikutnya, susana kebersamaan itu juga tetap bisa kita rasakan. Aamiin.

Kalau sudah sepertiku, setiap hari sahur sendirian, betapa kehadiran keluarga itu sangat berarti, bagaimanapun keadaan kita. 😘

Tapi, nggak papa deh, yang penting kalau berbuka puasa bisa kumpul lengkap dan menikmati sambal skippy bersama-sama ditemani kerupuk mlarat.

Sambal skippy dan kerupuk mlarat

Selasa, 07 Mei 2019

9 Alasan Memilih Seafood 36 Sherin Jaya Sebagai Tempat Buka Puasa Favorit di Gubug, Grobogan


Bulan ramadan, yang selalu ada di benakku saat bulan suci ini datang adalah kenanganku di masa SMA. Kesibukanku pasti bertambah. Selain sebagai emak-emak RT (baca rentenir), yang suka nagih-nagih uang kas ke teman-teman, aku juga jadi pemburu tempat buka puasa.

Anak SMA mana sih yang tidak bikin acara buka bersama setiap ramadan tiba? Sampai sekarang masih musim kan yang kayak ginian?

Nah, berdasarkan pengalamanku jadi emak RT setiap tahun, aku jadi tahu tempat buka puasa favorit di Gubug, Grobogan, masa itu. 

Beda cerita kalau sekarang aku ada kesempatan buka bersama di luar. Aku akan pilih Seafood 36 Sherin Jaya. Kenapa?

1. Letaknya strategis
Seafood 36 Sherin Jaya ini letaknya di pinggir jalan. Kalau orang sekitar paling mudah menghapalkan tempat ini adalah kedai berwarna merah dekat jalan masuk Desa Dukoh. Kalau dari arah Purwodadi, setelah pertigaan masih ke Barat kira-kira 1 KM, ada di sebelah kanan jalan. Dari arah Semarang, kedai ini terletak kira-kira 100 m setelah SPBU Gubug.

ini kenapa kepotretnya warna putih ya. Hihihi. Dalamnya warna merah, termasuk taplak meja.


Kalau di Google secara lengkap beralamatkan di Jl. A. Yani No, Pilang Lor, RT.03/RW.01, Pilang Kidul, Gubug, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.




2. Pilihan tempat duduknya banyak
Mau pilih duduk di kursi atau lesehan, bisa. Tempat makan ini bisa menampung sekitar 50 orang. Pas lah ya kalau satu kelas buka puasa bersama di sini.

3. Rasanya cocok di lidahku
Masakan di sini itu identik dengan rasa asin dan pedas. Cocoklah di lidahku. Soal level pedas, pelanggan bisa request kok. Karena semua olahan di sini adalah fresh. Pelanggan datang, baru dimasak. Santai, penyajiannya nggak lama kok. Kalau kamu datang rombongan, jangan lupa booking dulu ya.

Guramie saus padang, mantab pedasnya.

4. Harga masuk akal
Rasanya oke, bagaimana dengan harganya? Kira-kira kalau ke Seafood 36 Sherin Jaya bawa uang berapa ya?



Berdua, dengan menu nasi uduk 2 = 8000, ikan gurame saus padang ukuran 1/2 kg = 30.000, teh manis 2 = 6000, dan cah kangkung= 6000, pas 50.000 bisa makan kenyang di sini.

Bagaimana, bisa mentaksir berapa budget yang kamu butuhkan kalau buka bersama dengan keluarga besar di sini? Atau dengan teman sekelasmu?

5. Tempatnya terang
Untuk aku yang punya buntut usia 3,5 tahun gini, temoat terang jadi alasan. Karena Seafood 36 Sherin Jaya ini konsepnya terbuka, kayak lamongan gitu, tapi di depan rumah pemiliknya, jadi takut ada banyak nyamuk. Kan ada tuh tempat makan yang remang-remang. Duh, apa nikmatnya coba makan di tempat seperti itu? Alasan lain, ya, jelas, biar bisa foto-foto dan hasilnya ciamik. Hahaha.


6. Nasi banyak
Selamat, kamu beruntung. Hahaha. Nasinya ini uduk ya. Gurih banget dan dilengkapi dengan taburan bawang goreng di atasnya. Nggak cocok sama nasi uduk? Nasi biasa juga ada kok.

nasi uduk

7. Lalapan dan sambal tidak bayar lagi
Sebagai penyuka lalapan dan sambal, aku sangat berbahagia saat melihat di daftar menu tidak ada harga sambalnya. Itu artinya, tidak bayar lagi. Porsinya pun lumayan. Malah justru sisa untukku.

Kemangi, kol, mentimun, dan sambal.

8. Ada air kobokan dan wastafel
Saat duduk, kobokan berisi air dan irisan jeruk nipis langsung disajikan di depan pengunung. Akan tetapi, santai, disediakan juga wastafel lengkap dengan sabun dan lap kain di sampingnya.

9. Pemiliknya teman SMAku
O...ternyata teman SMA. Hihihi. Iya, ngggak masalah, kan?

Kalau nggak oke, jelas aku mikir-mikir lah untuk ikut mempromosikan usaha temanku ini. Lebih tepat, suaminya. Karena memang semua oke, dengan senang hati dan tanpa diminta, aku mau berbagi cerita tentang kurang dan lebihnya usaha Mbak Alfi dan suami.

Di atas sudah aku sebutkan kelebihan tempat makan Seafood 36 Sherin Jaya. Adakah kekurangannya? Kalau menurutku kekurangannya ada dua ,yaitu tidak adanya kamar mandi di luar (masuk ke rumah) dan parkirnya yang mempet jalan. Selebihnya, oke.

Oiya, kalau boleh jujur, semasa SMA dulu, aku dan Alfi tidak pernah satu kelas. Dia anak IPS dan aku anak IPA. Kalau ketemu, ya, sekadar 'hai'. Pun tidak pernah gabung dalamsatu komunitas.

Tak tahunya, setelah sekian tahun, kami saling membutuhkan. Setidaknya aku tahu sekelumit cerita awal mula mereka mendirikan Seafood 36 Sherin Jaya ini. Karena meja dan kompor yang dipakai di tempat makan ini adalah karya suamiku. Kalau dipikir-pikir nih ya, seandainya dulu aku berhubungan tidak baik dengan Alfi, mungkin aku tidak mendapat rezeki dari usahanya. Sekaligus ikut bangga punya teman yang kini sedang merintis usaha juga.

Benar ayat Alquran berikut ini,

“Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah Berbuat baik kepadamu” (Al-Qashas: 77)

Jadi, yuk, kita selalu berbuat baik kepada siapapun! Sekalipun orang itu berbuat keji kepada kita. Karena kita tidak pernah tahu, apa yang akan terjadi ke depannya dan Allah yang Maha Tahu segalanya.

Hari kedua

Baca juga :
Hari kesatu = Buka Puasa Pertamaku Sebagai Mahasiswa

Senin, 06 Mei 2019

Buka Puasa Pertamaku Sebagai Mahasiswa



Pernah tidak membayangkan seorang anak tunggal, pertama kalinya jauh dari keluarga dan itu terjadi di bulan ramadan?

Pokoknya aku harus bisa hidup tanpa bapak dan ibu. Aku tidak boleh cengeng. Aku bisa urus soal makan buka dan sahurku.

Pikirku saat itu.


Agustus tahun 2010, di bulan ramadan, aku menjalani masa Sapamaba (sejenis ospek). Jarak kampus dan rumahku sekitar 1 jam. Mau tidak mau karena kegiatan itu dilakukan selama tiga hari, mulai dari pukul 07.00 - 17.00 WIB, aku harus menetap di kos yang hanya dihuni tiga orang. Belum saling kenal pula.

Sapamaba berjalan dengan baik-baik saja. Justru yang tidak beres adalah otakku. Pertanyaan, "Nanti aku buka puasa pakai apa ya?", bertubi-tubi muncul dalam benakku.

Aku makan di mana?

Ibu masak apa ya? Ah, tak mungkin kalau aku pulang. Malu-maluin. Anak kos kok tiba-tiba pulang.

Saat waktu pulang tiba, aku segera kembali ke kos yang letaknya hanya selemparan kolor dengan kampusku. Maksud hati aku ingin bertanya kepada dua penghuni kos lain, mereka mau berbuka di mana, aku mau ikut, tapi saat aku selesai mandi, mereka tak tampak juga.

Sebentar lagi waktu buka puasa tiba, aku makan apa?

Aku teringat sesuatu. Kukunci kamar dan kunyalakan motorku. Kulajukan bebek merahku ke pusat kota. Aku takut ambil resiko, makanya aku datang ke tempat yang sudah sering aku datangi bersama bapak dan ibu saat lewat kota di mana aku kuliah ini.

Mie ayam.

Hahahahaha.


"Loh, Mbak e, mau buka puasa di sini?" tanya penjual mie ayam yang ada di deretan warung-warung dekat kantor DPRD.

"Nggih, Bu."

Disediakanlah teh hangat untukku. Air putih juga.

"Terima kasih, Bu. Kulo bingung mau buka puasa apa. Tidak tahu juga yang jualan makanan di sini, terus cocok di lidah kulo."

"Hihi. Ini buka puasa bareng saya saja." Ibu penjual mie yang jadi langganan keluargaku ini mengeluarkan bekal buka puasanya.

"Mboten usah, Bu (Tidak usah). Kulo (aku) makan mie ayam saja."

Kulihat ekspresi ibu penjual mie ayam itu. Alhamdulillah, beliau tidak tersinggung atas penolakanku. Selesai buka puasa, aku mampir di masjid agung dekat alun-alun. Kutunaikan salat maghrib di sana.

Dalam hatiku, Ya Allah, ternyata aku bisa buka puasa dengan nikmat meskipun jauh dari bapak ibu. Hahaha.

Hatiku bangga. Kepalaku membesar.

Kulirik HPku. Ada SMS dari ibu.

"Aku buka puasa bareng teman-teman kos, Buk."

Iyalah, aku terpaksa bohong kepada ibu. Aku takut ibu khawatir. Pun, pasti ngomel-ngomel kalau tahu aku buka puasa dengan mie ayam.

Aku kembali ke kos. Tak lama, adzan isya' berkumandang. Aku pergi tarawih ke masjid kampus. Saat aku keluar gerbang kos, aku berpapasan dengan dua teman kosku yang baru turun dari mobil.

"Mbak, kamu sudah buka puasa?" tanya salah satu dari mereka.

Aku mengangguk. Rasa iri muncul dari hatiku. Ya Allah, enak ya, bapak dan ibunya sengaja datang untuk mengajak mereka berbuka puasa di luar. Lah aku?

Tiba-tiba ada yang berbisik, "Nggak usah iri! Kamu bisa kuliah saja syukur banget!! Tahu diri woy!!"

Aku pun segera bergegas ke masjid. Pulang tarawih, ada Mas David, penjaga kosku.

"Tadi buka puasa di mana? Kok kos sepi." tanyanya.

"Dekat DPRD, Mas."

Mas David seperti orang mendelik. Aku maklum sih dengan ekspresinya. Kan emang jauh banget jaraknya dengan kosku.

"Sampai sini lapar lagi dong? Hahaha."

Dari ceritaku itu, Mas David bermaksud mengantarkanku untuk mencari menu sahur. Awalnya aku juga takut kalau Mas David punya rencana lain.

Jangan-jangan aku mau diperkosa.

Hahahaha.

Lha mana ada orang yang baru kenal, bela-belain mau nganter keluar beli makan sahur?

Tapi, sumpah Mas David itu baik banget. Dia bagai malaikat tak bersayap yang dikirim Allah untuk membantuku. Ihiiiirr.


Saat sahur, dia benar-benar rela keluar dari rumahnya untuk ke kosku dan mengantarkanku untuk membeli makan sahur.

Sepanjang perjalanan, dia bercerita banyak. Dia juga menunjukkan warung makan terdekat yang bisa kudatangi untuk membeli menu buka puasa. Untuk sahur, dia bersedia mengantarku selama aku ada di kos.

Alhamdulillah.

Awal-awal kuliah

Hari kedua di kos, ada banyak anak kos baru. Mungkin karena padatnya kegiatan Sapamaba, jadi, mereka memutuskan untuk nge-kos.

Nah, di sinilah, kebaikan Mas David kutularkan. Dua temanku yang dijemput orangtuanya pakai mobil, hari itu (hari kedua) orangtuanya tidak bisa datang. Mereka kebingungan cari menu buka puasa. Kusampaikan deh warung yang diceritakan Mas David. Karena aku yang tahu persis tempatnya, aku dan teman (baru) sekamarku yang akhirnya pergi membeli menu buka puasa. 

Teman kos lainnya juga ikutan titip.

"Pokoknya menunya sama semua ya?"

"Oke." Jawab mereka serentak.

Aku yang anak tunggal, awalnya takut jauh dengan bapak ibu, sejak hari itu dipercaya oleh teman-teman untuk jadi Emak bagi mereka. Hanya karena aku selangkah lebih maju kebingungan cari menu buka puasa. Sesungguhnya, ini semua karena Mas David. Hahahaha.

Hai Mas David, apa kabar? Kuyakin, kebaikanmu ini tak akan terlupakan untuk kami, mantan anak kos hijau.

Hari 1

Minggu, 28 April 2019

Wong Cilik Juga Bisa Umroh dan Blibli.com Menjawab Hal Itu



Banyak orang di sekitarku yang komentar sinis ke Mbahku (nenek dan kakekku) saat hendak pergi umroh.

"Wis tuwo peh lungo ngulon, ngko nak ning kono loro malah ora ono sing ngurusi. Duite kanggo sangu mati rak wis." (Sudah tua malah pergi ke Barat (Mekkah), nanti kalau di sana sakit malah tidak ada yang mengurusi. Uangnya untuk persiapan menjelang meninggal).


Dan masih banyak lagi komentar negatif yang lainnya.

Kami, keluarga besar Mbah, awal mulanya, pun agak sangsi. Satu, Mbah pergi umroh dengan menjual sawahnya. Kedua, Mbah sudah tua, mengoperasikan HP saja tidak bisa. Nanti di sana, bagaimana?

Untuk perkara yang pertama, setelah dibolak-balik, diskusi sana-sini, sawah memang bisa dipakai untuk tabungan hari tua mereka. Tapi, Mbah Kung (kakekku) merengek ingin sekali pergi umroh. Akhirnya, kami sekeluarga, bismillah, menyetujui Mbah daftar umroh. Wong ya sawah-sawah mereka. Kenapa tidak kami izinkan?

Untuk perkara yang kedua nanti akan terjawab di bagian bawah. Baca sampai selesai ya.

Akhirnya, dari pertimbangan semua keluarga, sawah Mbah dijual kepada salah satu cucunya saja yang jadi TKW di Hongkong. Agar nanti sepulang dari umroh, Mbah tetap bisa menggarap sawah itu dan bagi hasil. Sayang kalau sawah itu jatuh ke tangan orang lain, yang bukan keluarga.

Persoalan lain muncul, uang pembelian sawah itu ternyata tidak bisa langsung lunas seketika. Karena uang cucu Mbah tidak cukup untuk membayar semua harga sawah itu. Terpaksa Mbah harus menerima pembayarannya dengan dicicil. Pun, Mbah harus membayar biaya umrohnya dengan dicicil dan tidak tahu entah kapan akhirnya bisa berangkat umroh.

Sampai suata saat, tangan baik Allah datang dari majikan cucu Mbah. Gaji cucu Mbah untuk beberapa bulan ke depan diberikan saat itu juga agar Mbah bisa segera umroh. Alhamdulillah. Kami ikut bahagia karena impian Mbah untuk umroh di bulan ramadan akan segera tercapai.

Proses satu per satu dilalui Mbah. Semua berjalan dengan cukup berliku. Mulai dari mengurus buku nikah yang hilang, mengurus visa, bolak-balik suntik maningitis (Mbah Kung baru cerita kalau belum disuntik saat sudah sampai di rumah), sampai manasik telah dilalui.

Mbah mengikuti manasik

Di balik kesulitan, bersamanya ada kemudahan. Walau terasa berliku, alhamdulillah biro umroh Mbah begitu baik. Ke mana-mana, Mbah tinggal duduk manis di dalam mobil. Mbah diantar jemput seperti big bos. Subhanallah.

Haru Biru Keberangkatan Mbah

Puasa hari keempat, tahun lalu, bersamaan dengan adzan subuh, Mbah berangkat umroh via Bandara Ahmad Yani Semarang. Kami, anak, cucu dan buyutnya mengantar dengan dipenuhi rasa haru biru. Mimpi Mbah insyaallah akan segera diijabah Allah setelah perjalan yang sangat berliku dan melelahkan.

Mbah mengikuti doa bersama sebelum memasuki bandara

"Dongake aku yo, Nduk, tekan Mekkah, bali meneh ning omah kanti waras." (Doakan aku ya, Nduk, sampai Mekkah, pulang lagi ke rumah dengan sehat).

Aku merinding mendengar kata pamit itu. Kalimat Mbah terdengar begitu dalam. Bismillah, Mbah Kung dan Mbah Dokku ke rumah Allah untuk menjemput impiannya.

Setelah berdoa bersama, Mbah masuk ke bandara dan kami pulang ke rumah. Dari sinilah alasan kedua mulai terjawab. Karena Mbah tidak membawa HP, dimasukkanlah aku ke dalam grup WhatsApp jamaah umroh agar tahu perkembangan kabar Mbah.

Suasana saat di pesawat. Entah Mbahku di sebelah mana. Hihi.

Alhamdulillah, Biro yang Dipilih Mbah Tepercaya


Saat masih di musala bandara dan melihat pendamping rombongan Mbah, aku sudah bersyukur, insyaallah bisa diandalkan nih dari caranya memperlakukan jamaah. Alhamdulillah, memang benar.

Setiap saat beliau mengabarkan keadaan dan suasana yang dialami oleh jamaah. Foto dan video bertaburan di grup. Setiap kali ada kiriman terbaru, kuteruskan kabar itu ke grup keluarga besarku. Rasanya begitu menyenangkan. Kami yang di rumah bisa selalu update kabar Mbah, pun ikut merasakan suasanya.

Sampai ada suatu kejadian yang membuat kami terkejut. Bapak Adam, salah satu orang biro yang membantu Mbah mengabarkan kalau koper Mbah Dokku hilang. Kok bisa? Grup keluargaku geger.

Koper Mbah Dok akhirnya ditemukan

Cobaan apa ini?

"Tolong, ikhlaskan Mbah beribadah di sana. Agar perjalanannya tidak tersendat. Kasihan. Mereka sudah sepuh, di negara orang pula." Pesan salah satu saudaraku di grup.

Selepas dzuhur, Pak Adam mengabarkan kalau koper Mbah Dok sudah ketemu. Alhamdulillah. Rasanya mak plong. Kami juga mendapat kiriman foto kondisi Mbah Dok terbaru. Hati kami terenyuh. Terima kasih telah Kau pilihkan orang-orang baik untuk menemani Mbah umroh.

Ya Allah, Mbah Dokku kece badai, pakai kacamata hitam pula.

Foto dan video tak henti-hentinya menyebar di grup. Di setiap kesempatan, kami sekeluarga besar bisa melihat kegiatan Mbah. Berikut beberapa potret saat Mbah umroh.




Sepuluh hari terlewati, waktunya Mbah pulang. Rencana awal, saat pulang, Mbah ingin naik taksi bandara saja. Karena tidak ingin merepotkan anak, cucu, dan buyutnya untuk menyewa mobil. Kami menghormati keputusun itu. Akan tetapi, setelah dipikir-pikir, kok kasihan banget kalau Mbah tidak ada yang jemput sedangkan teman-teman lainnya pada disambut keluarganya.


Sekitar pukul 17.00 WIB, kami sekeluarga sudah memasuki Semarang tengah. Tak lupa sebelumnya aku memberi kabar ke Mas Andi, pendamping Mbah selama umroh, agar Mbah menunggu kami. Di luar dugaan, kami ternyata terjebak macet, mumpung belum terlanjur, kami harus putar balik untuk lewat tol saja.

Benar saja, sampai bandara, Mbah Kung dan Mbah Dokku sudah menanti di luar bandara. Dengan menggendong Kak Ghifa, aku langsung melompat ketika pintu mobil terbuka dan menemui Mbah.

"Maaf, Mbah, tadi macet."

Mbah memeluk dan mencium Kak Ghifa berkali-kali. Matanya berkaca-kaca dan sesekali terbatuk-batuk. Beliau sangat bersyukur sudah sampai Semarang lagi.

Setelah koper dan tas Mbah sudah di tangan, adzan maghrib pun berkumandang. Di dalam mobil kami membatalkan puasa sembari bercerita.

"Hotel e cedik karo masjid, karo Ka'bah. Aku dadine ora kesel mlaku aduh." (Hotelnya dekat dengan masjid dan hotel. Aku jadi tidak capek jalan jauh).

Alhamdulillah, sekalinya tidur di hotel langsung hotel di Mekah.

"Maem e yo enak-enak. Ono kabeh. Pecel, sate, tahu bakso, bakwan, mendoan, iwak wedus, wis pokoke garek mileh. Tapi yo aku maem sak cukupe. Lha bingung saking akehe." (Menu makannya enak-enak. Semua ada. Pecel, sate, tahu bakso, bakwan, tempe kemul, kambing, pokoknya tinggal milih. Tapi, aku makan secukupnya. Lha bingung saking banyaknya).

"Mbah Kung entuk sajadah soko wong Arab, pas bar sholat. Aku entuk maem, koyok roti, enak, karo kurmo 3 iji." (Mbah Kung dapat sajadah dari orang Arab, setelah selesai salat. Aku dapat makan, seperti roti, enak, dan kurma 3 biji).

Hahahaha. Kami yang mendengar cerita Mbah ikut berbahagia. Alhamdulillah ya Allah.

Potret kebahagiaan Mbah

Mobil yang kami tumpangi menepi ke SPBU. Kami sholat magrib dan berbuka puasa di sana dengan menu makan yang sudah kami siapkan dari rumah.

Tak henti-henti Mbah menceritakan kebahagiaannya saat di Mekkah. Selamat Mbah, mimpi Mbah telah tercapai. Rasa syukur tak lupa kami sampaikan kepada Allah SWT, ibadah Mbah berjalan dengan lancar dan mereka pulang dengan sehat dan bahagia.


Siapapun Bisa Umroh, Blibli.com Jawabannya


Setiap saat mendapat kabar Mbah lewat foto dan video di grup jamaah umroh, seakan-akan aku merasa ada di sana juga. Apalagi saat aku menonton video mereka tawaf. Ya Allah, tak terasa bulu romaku berdiri dan air mata menetes dengan sendirinya. Kapan aku bisa ke sana Ya Allah?

Sebagai orang muslim, siapa yang tak ingin ke Mekkah? Pun, insyaallah siapa saja bisa ke rumah Allah. Apalagi saat ini Blibi.com yang dikenal masyarakat luas sebagai marketplace tepercaya menawarkan berbagai macam travel umroh.

Pertama tahu kalau kini ada travel umroh Blibli.com dari email promosinya. Karena penasaran aku coba membuka aplikasi Blibli.com yang sudah terinstall di HPku. Nah, setelah mencari tahu, kemudian tanya-tanya langsung ke CS-nya, ada beberapa keunggulan travel umroh Blibli.com ini.

Banyak Pilihan
Per 27 April 2019, ada 61 produk travel umroh yang ditawarkan oleh Blibli.com. Diantaranya travel umroh dari Muna Tour, Halal Transasia, ESQ Tours & Travel, Fathindah Travel, Attin Nabila Tours, Sarana Tours, Umi Tour & Travel, Khalifah Asia Your, Pena Tour, Labbaika Tour, Iskandaria Tour, VIP Tour, dan PT Gulzar Tour & Travel. Nah, kira-kira adakah perusahaan biro perjalanan umroh yang sudah jadi langganan kamu?
DP mulai 2 jutaan dan bisa dicicil
Kalau sudah ada niat yang kuat, insyaallah jalan ke rumah Allah akan dipermudah. Dengan tekad memberikan pelayanan yang ikhlas dan semangat komitmen melayani jamaah, Blibli menawarkan paket travel umroh dengan DP mulai 2 jutaan.

Setelah membayar DP, proses selanjutnya, bagaimana? Berdasarkan pertanyaan yang kuajukan ke CS Blibli.com, setelah membayar DP, maka untuk pembayaran selanjutnya (pembayaran ke 2 H-45 sebelum keberangkatan & pembayaran ke3/Pelunasan H-30 sebelum keberangkatan) dapat dibayarkan langsung melalui Rekening Pergiumroh.com. Proses sama persis yang dilalui Mbah ku. Mereka juga nyicil beberapa kali. Jadi, tidak langsung lunas dalam sekali bayar.

Pelunasan biaya tergantung dengan pemilihan hari keberangkatan. Perhatikan betul pada pilihan tanggal berapa kita ingin berangkat umroh. Di sana ada pilihan harinya.



Tepercaya dan bebas memilih paket
Blibli.com sudah tak diragukan lagi keberadaannya selama menjadi salah satu penyedia ragam fashion, alat elektronik hingga perkakas dapur. Kini Blibi.com menawarkan pula paket umroh yang murah sesuai dengan kebutuhan kita. Harga yang ditawarkan jelas sesuai dengan fasilitas yang kita pilih. Mulai dari kapan pemberangkatannya, satu kamar berapa orang, mau pakai DP atau bayar langsung, semua ada pilihannya.

Banyak penawaran menarik beli paket umroh di Blibli.com
Ada penawaran menggiurkan lho kalau kita beli paket umroh di Blibli.com, diantaranya dapat potongan hingga 1,5 juta, ada gratis tiket pesawat, dan tersedia 3 pilihan paket dengan fasilitas terbaik.

Salah satu penawaran menarik di bulan April ini

Nah, kalau lihat beragam tawaran terbaik dari Blibi.com di atas, siapa sih yang nggak pengen umroh juga? Benar kalau ada nasihat, segerakan umroh, selagi muda, selagi sehat, dan selagi lapang. Kalau ingat perjuangan Mbahku di atas, selama ada niat yang kuat, meski jalan yang dilalui begitu berliku, uang pas-pas-an, insyaallah ada kemudahan yang menyertai. Jadi, kapan mau DP umroh di Blibi.com? Apalagi sebentar lagi ramadan tiba. Semoga, kita disegerakan ke rumah Allah ya.Aamiin.


Sumber bacaan:
https://haji.okezone.com/read/2017/07/20/600/1740952/terungkap-penyebab-seluruh-umat-islam-selalu-rindu-datang-ke-makkah
https://www.blibli.com/c/2/paket-umroh-wisata-religi/PA-1000187/TI-1000001?page=1&start=0&category=PA-1000187&sort=&utm_source=seo&utm_term=umroh&utm_medium=blogger&utm_content=umroh

Rabu, 17 April 2019

Belilah, Jangan Ditawar Apalagi Dihina



Belilah, Jangan Ditawar Apalagi Dihina - Kemarin malam, saat bapak pulang dari pasar, beliau membawa bungkusan plastik hitam.

"Ketan, Ka." Bapak menawariku.

Ibu yang menjawab, "Kok tumben beli ketan?"

"Sakne, sing dodol mbah-mbah tuwek. Pas udan sisan. (Kasihan. Yang jualan nenek tua. Saat hujan pula)"

Ibuku masih menimpali, "Lah, kok podho karo Ika. Bali-bali ngeter lomba nggowo terasi. (Lah kok sama dengan Ika. Pulang dari mengantar lomba, pulang-pulang bawa terasi). Padahal stok terasi di rumah masih panjang sampai beberapa bulan depan. Kalian berdua memang cocok."

Sumber: phinemo.com

Aku yang mendengar perkataan ibu hanya tersenyum. Lha mau bagaimana? Memang kasihan.
_____________________________

Aku jadi ingat momen-momen Ustadz Danu menangis ketika melihat seorang ibu dengan kaki yang tulangnya meleset dari tempat semestinya. Apa hubungannya dengan ceritaku?

Ibu itu mengalami hal demikian setelah kejadian tawar menawar dengan penjual cobek. Ibu itu menawar cobeknya dengan harga 50 ribu dari harga asli 80 ribu.

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya masih masuk akal ya nawarnya. Akan tetapi, mungkin ada embel-embel perasaan yang berbeda. Bisa jadi ada rasa jengkel dari penjual atau ibu tersebut yang berlebihan atau perasaan merendahkan orang lain.

Yang sering melihat acara Ustadz Danu pasti paham ya kalau apa yang terjadi pada diri kita adalah akibat dari perilaku kita sendiri. Itupun sudah diterangkan di dalam ayat suci Alquran.

Terlepas dari masalah dalam diri ibu tersebut, masih untung penjual cobek itu mau berusaha berjualan. Bukan meminta-minta. Eh, kok masih ditawar pula. 

Duh, malah ingat kasus laki-laki yang pernah tertangkap razia karena didapati sebagai pengemis tapi punya mobil. Kamu pasti tahu juga, kan? Viral banget beritanya.

Guruku pernah bilang kalau setiap hari kita itu diberi kesempatan oleh Allah untuk berbagi kepada siapapun. Terpenting adalah niat kita. Kalau dari rumah niat mau berbagi, kalau ketemu dengan orang, baik itu mau pengemis masih muda, yang berkebutuhan khusus, atau mbak-mbak menggendong anak, kalau mau berbagi ya berbagi saja.


Itu kepada pengemis, bagaimana kalau dengan penjual barang, seperti penjual cobek, ketan, dan terasi yang kuceritakan di atas? Jelas, kedudukan mereka lebih mulia dibandingkan pengemis. Mereka rela menahan malu demi mendapatkan untung yang tidak seberapa.

Ngomong-ngomong soal penjual terasi yang kutemui. Saat itu aku tahu kalau ibuku masih punya stok terasi banyak banget. Akan tetapi, melihat perjuangan bapak tersebut, datang di antara kumpulan guru-guru dengan berpakaian rapi, beliau juga berusaha berpenampilan rapi walaupun dengan baju dan sepatu yang seadanya.

Aku pernah juga menemui penjual keripik singkong saat aku jadi SPG di acara dinas pendidikan di kabupaten. Beliau hanya menjual keripik singkong seharga 2000 perak, lengkap dengan pikulannya yang usang, baju batik yang mulai lusuh, tapi beliu mau berjuang. Tidak hanya menengadahkan tangan.

Kalau lihat orang-orang yang mau berusaha dan malu meminta-minta seperti itu, apakah tega untuk menawar? Kalaupun tidak butuh-butuh banget, yuk, beli! Karena 5000 perak yang tidak terlalu besar bagi kita, belum tentu begitu juga bagi mereka.

Jangan sampai kita mudah berbagi dengan pengemis, tapi dengan mereka yang mau berusaha dengan berjualan (entah barang apa-penting halah), kita malah lalai!