Minggu, 18 Agustus 2019

Guru Milenial Pakai ASUS VivoBook Ultra A412DA yang Super Tipis? Apa Jadinya?


“Walah, gaya banget. Kelas 1 SD re pakai LCD, kayak anak kuliahan saja.”

Baca komentar tersebut, aku kaget. Loh, memangnya ada yang salah?

Begitulah kesan yang kudapat saat aku posting foto proses pembelajaranku di facebook. Terlebih lagi, sangat kusayangkan, si pemberi komentar itu adalah seorang guru milenial juga, sepertiku. Bukan bermaksud menghakimi atau aku merasa lebih baik darinya, tapi, bukankah seharusnya memang tidak ada pembeda, mau itu anak TK, SD, atau bahkan mahasiswa, kalau tempat mereka belajar memiliki fasilitas laptop dan LCD, kenapa tidak proses pembelajaran dibuat semenarik mungkin?

Sebagai guru milenial (generasi Y), yang dilahirkan kisaran tahun 1980-1997, senjata paling ampuh yang harus kugunakan di kelas bukanlah kayu panjang (ukuran 1 meter dengan diameter 2 cm) lagi. Itu tuh, kayu yang biasanya digebukkan di atas meja untuk memaksa anak duduk diam memperhatikan. Melainkan, apa?

Kita lihat, siapa to yang saat ini jadi anak didikku? Mereka adalah yang lahir di atas tahun 2010, alias Generasi Alfa. Di dalam makalah Beyond Z: Meet Generation Alpha disebutkan bahwa Generasi Alfa akan lebih akrab dengan teknologi dibandingkan Generasi Z (padahal aku ini generasi Y, sebelum Z). Nah, kenapa tidak, kalau pembelajaran di kelas didesain sedemikian rupa dengan memanfaatkan laptop dan LCD? Bukankah itu ‘dekat’ dengan mereka?

Alasan apa lagi yang bisa kita gunakan untuk tidak menghadirkan teknologi dalam pembelajaran di kelas? Atau, mungkin inikah yang kita takutkan?

"Guru akan tergantikan oleh aplikasi."

Memang, banyak ahli mengatakan bahwa dengan berkembangnya teknologi lama-kelamaan peran guru di era digital ini akan tergantikan. Anak didik tak akan butuh kehadiran guru lagi. Lihat saja, sekarang ini bimbingan belajar online menjamur, seperti Ruangguru, Ruang Juara, Rumah Belajar, Rumah Juara, Quipper, Bimbel SMARRT, Kelas Kita, CBT Ujian Nasional SMP, dan masih banyak lagi lainnya, yang tinggal pegang gawai, unduh, sudah deh, tinggal belajar, nggak harus ada guru.

Eits, tunggu dulu.

Kurasa kehadiran guru akan tetap dibutuhkan kok. Sesuai akronim dalam bahasa Jawa, guru; digugu lan ditiru, sosok yang dipercaya dan diikuti.

Ini diperkuat dengan adanya Taksonomi Bloom yang masih dipakai di Indonesia, bahwa penilaian dalam pembelajaran itu meliputi ranah kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik (keterampilan). Okelah, yang kognitif bisa digantikan oleh aplikasi bimbingan belajar online atau perkembangan teknologi lainnyaTapi, yang afektif? Psikomotorik?

No no no.

Insyaallah, anak-anak tetap butuh kita, gurunya. Oleh karena itu, kenapa tidak kita berikan yang terbaik untuk mereka? Kenapa tidak kita 'ambil hati'-nya?

Jujur, baru 5 tahun jadi guru (honorer), aku merasa, Ya Allah, ternyata gini banget, ya. Tugasnya banyak, tanggungjawabnya segunung. Apalagi mereka yang sudah PNS.

Administrasi kelas yang segambreng, ada kalau 30 macam lebih, belum administrasi yang lain. Setiap hari, sepulang anak-anak, harus menyiapkan media, buat soal ulangan, atau tetek bengek untuk pembelajaran esok hari. Kemudian merapikan kelas, menyapu, ngepel pula. Hahahahaha.

Aku mau bilang, menjadi guru itu melelahkan, tapi, setiap hari aku kok makin jatuh cinta dengan profesiku ini.

Jatuh cinta rasa apaan ini? 

Benar kata sesepuh guru, profesi guru itu panggilan jiwa. Kalau hanya sekadar setengah hati, kuat sebulan saja, sudah syukur banget.

Aku jadi ingat anak didikku di sekolah baruku ini. Jumlahnya hanya 24, tapi, serasa 40 anak. Ada yang jalan ke sana-sini, naik meja, gangguin teman, ada yang nangis karena pensilnya patah, hahahahahaha. Semuanya ada.

Giliran di kelas ada layar gedhe, semua aman terkendali.

Giliran aku mengeluarkan gawai untuk menunjukkan gambar perempuan Ethiopia yang berleher panjang, mereka takjub, berebut karena antusias ingin lihat.

Yes, sebenarnya, segitu receh cara mengambil hati mereka. Apalagi kalau bukan memanfaatkan perkembangan teknologi?

Program Satu Guru Satu Laptop, Angin Segar, Tapi Kok Tidak Ada Keberlanjutannya?


Pada tahun 2009, pertama kali program Satu Guru Satu Laptop moncer di mana-mana. Tak tanggung-tanggung, surat kabar dipenuhi berita kabupaten ini dan itu, dari pelosok Timur ke Barat, membagikan laptop gratis untuk gurunya.

Ini lho sebenarnya contoh nyata kalau pemerintah peka akan kebutuhan guru di Indonesia.

Sayang, kini, program tersebut tidak ada baunya lagi. Padahal kebutuhan laptop bagi guru, kini, malah makin penting. Apalagi untuk guru milenial. Kalau menurutku, guru kok nggak bisa pakai laptop atau tidak punya laptop, dijamin tidak bisa berkutik. Siap-siap saja bakalan terlindas zaman.

Guru kencing berdiri, siswa kencing berlari. Bagaimanapun caranya, kelak, siswa memang akan lebih pandai dibandingkan gurunya. Akan tetapi, masak iya, sih, kita hanya berpangku tangan? Katanya profesi ini panggilan jiwa. Maka, guru harus mau belajar lebih banyak dan rajin lagi. Tidak bisa memakai laptop, belajar. Tidak punya laptop, ya, beli. Apa, iya, mau menunggu durian runtuh dari pemerintah?

Tak kupungkiri, banyak teman sejawat yang mengeluhkan begini,

"Gaji sebulan tidak cukup, Mbak, kalau buat beli laptop."

(((Laptop sekolah hanya sebiji kemudian dipakai bergilir)))

Blaik. Ini nyata sih di lapangan.

Lah iya, apalagi untukku yang baru jadi guru honorer. Percaya deh, kalau sudah niat, apalagi untuk media mencerdaskan anak bangsa, insyaallah akan ada jalannya.

Sekarang, toh banyak juga produsen laptop yang pintar membidik konsumen, salah satunya guru milenial. Banyak laptop yang harganya masih masuk akal, tapi spek-nya mumpuni untuk menghandle pekerjaan seorang guru. Salah satunya ASUS, perusahaan TI paling TOP di dunia.

Di tahun 2019 ini, ASUS menghadirkan ASUS VivoBook Ultra A412DA yang super tipis. Memang sih perangkat ini memakai prosesor AMD Ryzen 3000, tapi, performanya tidak kalah kok dengan intel. Pun kita bisa pilih mau varian prosesor AMD Ryzen 3 atau AMD Ryzen 5. Bisa kusebut, dibanderol dengan harga 6,5 jutaan, laptop ini murah, tapi, nggak murahan kok.

Nah, kira-kira nih, kalau sudah ada ASUS VivoBook Ultra A412DA, kolaborasi apa sih yang bisa dilakukan guru milenial agar kelas makin hidup, pun anak-anak makin kecantol sama kita?

Jadilah Guru yang Berkarakter



Aku masih ingat betul dengan nasihat dosen pembimbing utama skripsiku dulu, bahwa menjadi guru itu harus berkarakter. Apalagi kita adalah panutan anak-anak. Segala tingkah laku dan ucapan kita, dipercaya dan ditiru oleh anak didik.

Guru harus punya karakter pekerja keras dan tentunya cerdas di setiap saat. Jangan pernah gengsi untuk mengucapkan terima kasih dan meminta maaf apabila melakukan kesalahan.

Ada satu kejadian, saat aku menggantikan guru kelas 5, ada anak didikku bertanya tentang letak bagian lidah yang merasakan asin. Karena aku tidak yakin antara sebelah kiri atau kanan, aku pun meminta maaf dan memintanya untuk bersabar, agar aku bisa mencarikan jawabannya di internet dan esok hari memberitahunya.

Apa yang terjadi esok harinya? Dia sudah tahu jawabannya.

"Aku pinjam HP bapak, kucari di internet, Bu."

Untung saja, aku nggak asal jawab. Kalau sampai salah, apa jadinya? Anak didikku tadi akan mempercayai jawabanku yang asal-asalan. Nanti, kalau dia tahu jawaban yang betul dan jawabanku salah, bukankah rasa percaya anak tersebut ke aku malah berkurang? Ke mana karakter guru; digugu dan ditiru, ku?

Sejak itu, kuperbanyak membaca, membaca, dan membaca, terutama untuk materi yang akan aku sampaikan ke anak-anak. Pokoknya jangan sampai malu-maluin lah. Apalagi, pertanyaan anak-anak tuh sering tak terduga lho.

"Bu, kenapa astronot bajunya model gitu? Kan kelihatan gendut. Aku kalau jadi astronot, nggak mau ah pakai baju kayak gitu." Salah satu pertanyaan terpolos dari muridku kelas 1 SD.
Atau yang ini, saat melihat gambar perempuan Ethiopia yang berleher panjang.

"Itu mamaknya jahat banget ya, Bu. Lehernya pasti sakit. Bapaknya ke mana, kok dibiarin?!"

Kira-kira jawaban apa yang tepat? Hahaha.

Belajar, euy, belajar. Buka laptopnya, searching di Google. Kalau nggak ketemu? Cari terus, jangan putus asa! Hahaha.

Kalau berselancar memakai ASUS VivoBook Ultra A412DA yang sudah dilengkapi dengan desain ErgoLift mah enak. Karena desain ini membuat bagian laptop yang ada keyboardnya, saat dibuka, akan terangkat sebesar dua derajat. Ini membuat kita yang memakainya merasa nyaman walau lama mengetik. Mesin laptop pun tidak mudah panas. Kalau sedang berada di ruangan yang kurang cahaya, kita bisa mengubah tiga kali pencahayaan atau backlit keyboardnya.

Mau multitasking? Ya, mengetik, eh, mau buka Youtube, atau main game, santai, ASUS VivoBook Ultra A412DA ini mumpuni banget. Karena laptop ini memiliki prosesor AMD Ryzen™ 5 3500U dan dilengkapi grafis Radeon™ Vega 8.

Takut bakalan muser-muser saat mencari video atau sekadar informasi lainnya? Santai, nggak akan, kecuali jaringan pas jelek, ya. Karena kecepatan onlinenya sampai 867 Mbps. Pun, jangan khawatir kalau keyboard sering dipencet nanti akan cepat rusak! Laptop ini sudah dilengkapi chiclet keyboard yang teruji dengan daya tahan sepuluh ribu kali penekanan.

Jadilah Guru yang Mengenal Siswa Lebih Dalam 


Sudah mau mengenali diri sendiri sebagai guru milenial, itu bagus. Akan lebih baik lagi kalau kita mau mengenali, siapa to anak didik kita?

Generasi Alfa itu cenderung melek teknologi dan media, senang melakukan komunikasi efektif, bahkan bisa dibilang banyak bicara, kritis, senang diberi tantangan atau senang memecahkan masalah, dan berkolaborasi.

Aku sendiri merasa anak zaman Google Kids (sebutan lain untuk Generasi Alfa) tuh rasa ingin tahunya luar biasa banget. Apa saja ditanyakan, disentuh. Pokoknya kalau belum terjawab, dikejar terus.

Nah, seringkali saat laptopku di kelas, kutinggal sebentar ke kantor untuk ambil minum, pasti nanti ada yang laporan,

"Bu Ika, tadi Agung pencet-pencet laptop Bu Ika. Terus laptopnya nyala."

Kutahu, mereka sangat kepo dengan laptopku. Sesekali kupersilakan mereka untuk melihat dan mencoba memencet keypadnya. Hoooo, balasannya adalah senyum lebar mereka. Akan tetapi, namanya juga masih anak-anak, kutetap harus waspada, maka saat kutinggal, laptop harus kumatikan, nanti baru kunyalakan lagi. Jangan ditanya, proses bootingnya lama banget. Keburu waktu istirahat habis.

Berbeda kalau pakai ASUS VivoBook Ultra A412DA, karena sudah dilengkapi dengan sensor fingerprint yang terletak di bagian atas kanan touchpad. Laptop aman deh. Mau disentuh-sentuh, kalau bukan sidik jari si empunya kan semua data aman. Alias tidak akan terbuka.

Yang menarik lainnya dari touchpad  ASUS VivoBook Ultra A412DA, adalah cukup mengeklik ikon touchpad khusus, keypad akan berubah menjadi Numberpad yang memudahkan kita saat melakukan perhitungan.

Laptop ASUS VivoBook Ultra A412DA ini juga makin recommended karena sudah pre-install dengan Windows 10 asli. Tak ada  lagi yang namanya bajakan. Jadi, nggak heran kalau laptop ini makin aman saat ditinggal karena didukung fitur Windows Hello juga. Tampakin saja wajah kita di depan laptop, secepat kilat, laptop ini akan memindai dan sistem operasinya siap digunakan. Fingerprint OK, Windows Hello pun jalan.

Begini penampakan Windows Halo

Kembali ke soal karakter anak yang baik.

Bukan hanya perkara di atas saja, tahu karakter siswa secara mendalam akan lebih mempermudah kita untuk mengetahui kelebihan dan kekurangannya. Masing-masing pun punya gaya belajar yang berbeda-beda. Penting banget nih kita perhatikan, bahwa seorang anak tidak bisa dipukul rata dengan teman lainnya.

Aku punya murid namanya Nabiel. Dia itu membacanya sudah lancar banget, sedangkan Ipank, huruf alfabet saja belum hafal. Tidak mungkin dong kalau standar penilaian dan perlakuan belajarnya kusamakan. Inilah gunanya kita kenal  dan paham betul karakter anak didik kita.

Mampu Menciptakan Pembelajaran yang Sesuai Kenyataan




Masih pernah dengar kalau pembelajaran itu harus yang kontekstual atau nyata? Zaman now tidak lagi yang nyata, tapi harus sesuai dengan kenyataan. Bahkan disesuaikan dengan kebutuhan anak di masa yang akan datang.

Sayang saja, masih banyak lho buku pegangan guru yang tidak sesuai dengan kenyataan. Misal, ketika ada materi macam-macam suara benda di sekitar kita. Di buku ditulis suara HP itu kring kring kring. Padahal, zaman now, apakah masih ada HP yang bunyinya demikian? Kalaupun masih ada, seribu satulah, ya. Jelas, materi ini tidak sesuai dengan kenyataan zaman now.

Benar adanya kalau guru tidak boleh malas untuk selalu mempersiapkan secara matang pembelajaran yang akan dilakukan esok hari. Wong yang dipersiapkan secara matang saja pasti ada yang terlewatkan, apalagi yang tidak. Dijamin bedundukan (tidak sistematis)  deh dan anak-anak banyak yang kurang antusias, bahkan rewel, nangis.

Pernah ada kejadian, aku rebutan LCD sama guru lain. Dari siang hari sebelumnya, aku booking LCD yang hanya dua jumlahnya. E e e, esok hari, saat aku mau pakai, LCD sudah nggak ada di lemari. Ternyata di meja guru kelas 4, rebutan, ya, rebutan, deh. Tapi, akhirnya aku mengalah. Sadar diri karena katanya aku keseringan pakai LCD. *tepok jidat*

Akhirnya, ya, aku harus kerja ekstra. Nggak mungkin dong kalau pembelajaran kuganti dengan yang lainnya, karena aku sudah telanjur janji kepada anak-anak.

Mutar otak, kudesain ulang deh pembelajaran hari itu. Yang harusnya anak-anak tinggal nonton video pembuatan plastisin, kemudian tinggal ngikutin, ya, mau nggak mau harus per kelompok deh maju, kemudian melototin laptopku yang layarnya hanya seuprit, baru kemudian mempraktikkan proses pembuatan plastisin.

Wajar kan kalau aku ingin ganti laptop seperti ASUS VivoBook Ultra A412DA. Soalnya layarnya sudah memakai teknologi NanoEdge, yang luas banget, sampai 14'' dan serasa tak berbingkai. Pokoknya tipis banget, kemudian beratnya juga hanya 1,5 kg.

Guru milenial pasti suka nih yang ringan, tipis, performa kece, terus warnanya yang eye-catching. Kalau misalnya diminta memilih dari keempat warna yang ada, yaitu Slate Grey, Peacock Blue, Transparent Silver, dan Coral Crush, aku pilih yang Coral Crush saja deh. Nohok banget warnanya, ya, sesuai jiwa milenial.

Kubayangkan kalau aku pakai ASUS VivoBook Ultra A412DA ini di kelas, anak-anak pasti pada heboh penasaran. Tapi, paling nggak kalau pakai laptop yang satu ini, anak-anak lebih puas melihatnya, karena layarnya luas banget. Kemudian, kalau menonton video, suara yang keluar pun mantab. Bass nya lebih jedag-jedug dan tak ada suara bising kayak semut ngamuk. Teknologi ASUS SonicMaster memang tidak bisa diragukan lagi.

Apa kabar dengan baterainya? Jangan-jangan boros kalau dipakai untuk nge-game atau youtube-an?! Oh, tidak, baterai ASUS VivoBook Ultra A412DA ini diklaim awet banget, bisa seharian digunakan, karena baterainya 2 cell 37 Whr. Dari review youtuber Billy Dolmen, laptop ini saat dicas dalam waktu 49 menit sudah terisi 60%. Cepat banget, ya?!


Ajak Siswa untuk Gila Membaca



Aku nggak mau menjelaskan seberapa jeblognya minat membaca orang Indonesia. Aku hanya ingin menjadi bagian dari pejuang literasi di sekolahku.

Kurikulum 2013 ini kurasa bagus untuk saat ini. Sebelum pembelajaran dimulai, siswa diwajibkan melakukan budaya literasi. Seperti, membaca, mendengarkan dongeng, sampai menonton video. Sayang, di sekolahku tidak terlalu gencar budaya ini. Tapi, tidak papa, walau sendiri, aku akan berjuang terus.

Aku tidak akan pernah lelah untuk membacakan buku cerita ke anak-anak, setiap pagi. Seringkali aku mendongeng dengan ide cerita yang otodidak. Alhamdulillah, mereka antusias. Bahkan kalau aku lupa tidak bercerita, mereka yang nagih.

Syukur alhamdulillah, sekarang mudah sekali untuk mencari cerita khusus anak-anak. Tinggal ketikkan 'cerita anak usia 7 tahun', maka akan muncul banyak sekali pilihannya. Enak lagi, ini bisa memudahkan kita, tapi, dengan catatan di kelas ada LCD, tinggal unduh tuh video-video dongeng anak di youtube. Jangan takut jebol memorinya, kalau laptop yang kita pakai itu adalah ASUS VivoBook Ultra A412DA. Karena bisa muat sampai 512 GB (SSD)+ 1TB (HDD). Selain itu slot USBnya juga lengkap. Misalnya ada video di flashdisk, colokin saja, secepat kilat, data akan segera terbaca.

Catatan terpenting sebagai guru milenial adalah sebelum video yang kita unduh itu ditampilkan di depan anak-anak, kita harus menontonnya terlebih dahulu. Kira-kira videonya cocok nggak untuk anak-anak. Saat nonton, selingi dengan nasihat-nasihat.

Ah, sebenarnya menjadi guru milenial tuh enak, kok, ya. Kalau gadget bisa membuat mereka kecanduan, kenapa tidak, kita, guru mereka membuat mereka kecanduan juga? Kecanduan ke sekolah dan bertemu kita maksudnya. Hahaha.

"Ah, jadi guru itu melelahkan. Sering dikomplain keluarga karena tidak ada waktu untuk mereka."

Semua memang kembali ke niat kita, guru milenial. Kalau nurutin capek, ya, capek.  Kita harus dinamis, tapi, juga disiplin. Tugas seperti tidak ada habisnya. Permudah saja pekerjaan kita dengan adanya media yang mumpuni, seperti ASUS VivoBook Ultra A412DA. Laptop ini termasuk murah, ringkas, tipis, pilihan warnanya zaman now banget, performa juga mumpuni, tapi tetap bisa ditenteng ke mana-mana.

Eh, kamu, iya, kamu, nggak tertarik sama ASUS VivoBook Ultra A412DA ini?

Terakhir, pokoknya, kalau sudah nyemplung ke dunia guru, jangan tanggung-tanggung, ya!? Hajaaaaaarrr teruusss! Hai guru milenial, semangat ya! Lelah kita akan terbayar lunas dengan senyum lebar mereka.

Spesifikasi ASUS Vivobook Ultra A412DA
Layar
4.0″ (16:9) LED backlit FHD (1920×1080) 60Hz Anti-Glare Panel
Processor 
AMD Ryzen™ 5 3500U 4 Core 8 Thread Clockspeed hingga 3.7 Ghz
Grafis
Radeon™ Vega 8 Graphics
RAM
4 GB DDR4 2400MHz, Tersedia 1x Slot Upgrade Kapasitas Total 12 GB
Storage
SSD M.2 256 GB
Konektivitas
Combo BT 4.2 + Wi-Fi AC (2×2)
Webcam
HD 720p
I/O 
1 x COMBO audio jack
1 x Type-A USB2.0
1 x Type-A USB 3.1 (Gen 1)
1 x Type-C USB 3.0 (USB 3.1 Gen 1 / Gen 2)
1 x HDMI
Baterai    
2 Cell 37 Whr
OS
Windows 10
Fitur Unggulan
Illuminated chiclet keyboard (optional), Fingerprint, Windows Hello, Fast Charging, Asus SonicMaster.
Dimensi dan Berat
322 x 212 x 19.9 mm (PxLxT)
1.5 Kg Termasuk Baterai



Sumber bacaan:
https://www.asus.com/Laptops/ASUS-VivoBook-14-X412DA
https://jalantikus.com/tips/aplikasi-belajar-online-android/
https://www.koranbernas.id/berita/detail/menjadi-guru-milenial
https://www.nu.or.id/post/read/99445/guru-cerdas-di-era-milenial

Selasa, 06 Agustus 2019

Hai Anak Tunggal, Siapkan Asuransi Kesehatan untuk Kedua Orangtuamu Sedini Mungkin



Sisi yang jarang dipandang orang lain dari seorang anak tunggal adalah tanggungjawabnya merawat kedua orangtua. Bisa dibayangkan, kalau punya saudara 3, satu merawat orangtua, yang satu mengurus tetek bengek keperluan rumah, yang lainnya karena ada kesibukan bisa menopang soal biaya. Semua bisa dikerjakan bersama-sama dengan saudara. Lha kalau anak tunggal?

Anak tunggal menanggung semua sendiri. Seringkali, saat berdoa sama Allah, ingin rasanya kulepas pundakku untuk sementara. Hihi. Tapi, mana bisa?

Saat perasaan ini muncul, kok, Allah gini, ya, sama aku? Stop. Aku nggak mau terus-terusan berburuk sangka sama Allah. Aku adalah orang pilihan. Ya, aku spesial, maka dipilih Allah untuk merawat kedua orangtuaku sendiri. Ingat, ini pahala besar. Kenapa kuharus berkeluh kesah?


Dulu, pas masih awal-awal kuliah, aku ngebet banget punya suami yang kaya raya dengan kekayaan tujuh turunan nggak habi-habis. Hahahaha. Kenapa? Ya, karena aku punya pemikiran biar nanti kedua orangtuaku sudah sepuh, aku tidak kelabakan mencari dana apabila mereka sakit.

Tapi, apa yang terjadi saat ini?

Itu hanya mimpi, Gaes. Hahaha.

Yaaaaah, paling tidak, meskipun tidak kaya raya secara materi, tapi insyaallah suamiku kaya hatinya. Hahahaha. Duit mah tinggal minta sama Allah. Ntar juga dikasih. Bukan, begitu?

Gayaneeeee...

Saat tahu ibuku sakit


Sejak anakku lahir, 3 tahun 10 bulan yang lalu, sebenarnya ibuku sudah mengeluhkan tentang benjolan di payudaranya. Karena masih kecil, kami pun menganggapnya itu bukan kanker. ((Bodohnya))

Setiap kali kuajak untuk periksa, pun ibuku menolak. Katanya sih itu bukan masalah yang besar. Kuturuti saja. Meskipun hatiku tetap ketar-ketir.

Sampai akhirnya, aku lupa awalnya karena apa, BPJS ibu sempat nonaktif karena nunggak pembayarannya hampir dua tahun lebih. Oh, ya, ya, aku pernah berpikir, buat apa bayar BPJS terus setiap bulan tapi tidak pernah dipakai. 

Sampai akhirnya, ibu mulai sering berkeluh kesah tentang benjolannya lagi. Akhirnya kutawarkan untuk periksa lagi dan lagi. Tapi, ya, tetap saja menolak. ((Sabar))

Apa mungkin ibu merasa kasihan kepadaku soal biaya. Sampai sini aku menyesal, kenapa BPJS ibu sampai tak kubayar? Hiks. Penyesalan memang selalu datang belakangan, ya.

Kucari pinjaman sana-sini untuk membayar tunggakan BPJS ibu yang menginjak angka 2 juta lebih. Alhamdulillah, tanpa berhutang, Allah kasih rezeki yang tidak terduga. Niat yang baik ternyata memang dipermudah sama Allah. BPJS ibu pun aktif kembali.

Benjolan di payudara ibu makin membesar, sekitar sejempol, ibu makin kalang kabut. Kubawa deh periksa ke dokter keluarga. Di sana, kami diberi rujukan untuk segera ke dokter bedah. Sampai rumah ibuku langsung menangis. Beliau nggak siap kalau harus dibedah, terlebih lagi kalau periksa di rumah sakit besar antrenya puanjaaaaaaaang.

"Kalau periksa ke rumah sakit pakai BPJS, kamu apa nggak ingat, Bulekmu yang awalnya sakit nggak terlalu parah, antre dari subuh, jam 12 baru kepegang sama dokter, pulang-pulang bukan malah sembuh, eh, malah.... Tadi periksa ke dokter keluarga saja antrenya kaya gitu (1,5 jam antre)." terang ibuku.

Iya, sih, memang demikian adanya. Tapi, ya, tidak kemudian seutuhnya menyalahkan pelayanan rumah sakit dan adanya BPJS. Toh, banyak juga yang sangat terbantu dengan adanya BPJS.

Asuransi Kesehatan yang lain

Aku jadi teringat obrolan dengan guru SMAku saat berkunjung ke rumahnya, lebaran dua tahun yang lalu.

"Asuransi kesehatan ini ada yang mulai 50 ribu per bulan, ya, ada, Mbak. Pokoknya menyesuaikan dengan kebutuhan kita lah. Kalau pakai ini tuh ya nggak pakai antre panjang pas mau periksa. Enaklah pokoknya."

Itulah sekelumit ucapan Pak Kirno, guru SMA-ku. Nah, karena penasaran, pun aku lupa asuransi apa yang beliau ceritakan, semalam aku coba browsing tentang cara memilih asuransi kesehatan di internet sebelum menentukan mau pakai asuransi apa.

Ternyata ada hal terperinci yang harus kita perhatikan betul-betul ketika hendak memilih suatu asuransi. Apa sajakah itu?

  1. Pilih asuransi kesehatan dengan premi yang sesuai kantong kita.
  2. Pastikan perlindungan apa saja yang diberikan oleh asuransi kesehatan. Apakah menanggung biaya rawat inap, rawat jalan, kesehatan gigi, kehamilan, kesehatan mata, dll. Itupun berlalu berapa lama harus dipastikan betul.
  3. Apabila kita diberikan kesehatan terus, alhamdulillah, apakah premi kita akan kembali walau hanya berapa persen? Kalau BPJS kan jelas tidak akan kembali. Pastikan, asuransi kesehatan kita memberikan pernyataan jelas mengenai pengembalian premi ini. Pengennya, ya, sehat selalu, ya, aamiin.
  4. Apakah asuransi kesehatan yang kita pilih menanggung biaya pengobatan di luar negeri? Sekarang kan lagi ngetrend banget, ya berobat ke luar negeri. Ah, namanya juga berobat, kalau ada dananya, ke mana pun dijangkau asal bisa sembuh.
  5. Apakah prosesnya mudah dan cepat? Misalnya pembayarannya, mau nambah anggota keluarga baru, proses pengambilan klaimnya berbelit-belit, tidak. Ini bisa tanya-tanya ke pengguna asuransi kesehatan yang sudah lebih dulu memakainya. Bisa juga dengan membaca testimoni dari konsumen di web penyedia asuransi kesehatan tersebut.
  6. Pastikan jaringan rumah sakit yang menerima asuransi kesehatan kita ada di mana-mana. Lebih utama, tentunya ada di sekitar kita.
  7.  Dapatkah keuntungan tambahan, mialnya bonus cek kanker, dialisis, kematian, dsb?
***


Alhamdulillah, insyaallah, kini, keadaan ibuku lebih baik dari sebelumnya. Namanya orang berobat itu memang harus sabar. Sabar sekabehane (seluruhnya). Yang sakit, ya, sabar, apalagi yang merawat.

Sungguh, aku berpesan kepada anak tunggal di luar sana, kalau saat ini belum ada asuransi kesehatan untuk orangtua, yuk, segera buat agar hidup kita sedikit bisa bernapas lega lah. Walaupun kita minta doa sama Allah, ya, semoga selalu diberikan kesehatan. Biaya rumah sakit tuh naik muluuuuuu. Padahal gaji kita nggak naik-naik. Kalaupun naik, ya, nggak seberapa. ((Curhat))

Benar nasihat lama itu, lebih baik mencegah daripada mengobati dan lebih baik sedia payung sebelum hujan. Percayalah, insyaallah, kalau niat kita baik, Allah akan memudahkan rezeki kita.  Nanti ada saja jalan untuk membayar asuransi kesehatan mereka. Apalagi ini untuk kedua orangtua.



Kamu, anak tunggal yang di luar sana, mari kita saling menguatkan. Hidup ini memang berat. Tapi, kamu, aku, kita nggak sendiri. Semangat berjuang merawat kedua orangtua, insyaallah, surgaNya di depan mata. Aamiin.