Minggu, 07 Juli 2019

Pelajaran Penting di Dalam WC


Satu hal yang aku senangi saat ikut seminar, pelatihan, sampai event bloger di hotel itu adalah akan adanya hal baru yang aku dapatkan. Ke-ndeso-anku akan muncul seketika. Lha terus apa hubungannya sama WC? Cekidot.

Kemarin, aku mengikuti sarasehan yang diadakan oleh Balai Bahasa Jawa Tengah di salah satu hotel dekat Pasar Johar yang lama. Cerita ini bermula saat teman sebelahku bercerita tentang, "Airnya nggak keluar, Mbak. Aku cuma pakai tisu."

Halo, salam kenal dariku berkerudung biru yang bermuka bantal. Lama tak pergi meninggalkan rumah, malam sebelum acara malah tidak bisa tidur.


Pikiranku langsung, "Lah kepeten dong." Kepeten kalau di bahasa Indonesia tuh apa ya? Kayaknya kok belum nemu. Pokoknya jorok banget, pipis kok nggak cebok pakai air. Begitu pikirku.

Di lain sisi, insting ke-kepoanku muncul. Apa iya, WC kok nggak ada airnya sama sekali?

Saat itu sebenarnya aku kebelet pipis juga. Akan tetapi, ogah meninggalkan ruangan karena tiga hal. Satu, letak WCnya tidak strategis, harus muter melewati 400 peserta. Dua, materinya lagi bagus. Terakhir, narasumbernya ganteng banget. Hahaha. Alasan yang terakhir ini jujur. Tapi, tolong, jangan bilang ke abi!

Ini lho narsum yang kumaksud. Abang Ivan Lanin. Ciaaah, abang. Dilempar cucian diriku nanti. Materi yang disampaikan tentang kebahasaan, bergizi banget lah.

Akhirnya, aku berhasil menahan pipis sampai acara selesai, kemudian makan di lantai bawah.

Makanan di piring kulahap dengan cepat. Kebelet pipiiisssssss.

Kulihat di pintu sebelah kiri ada tulisan toilet. Aku mempercepat langkahku. Saat masuk, oh, sepi.

Kukunci pintu dan menggantungkan tasku. Kuperhatikan klosetnya. Ehm, memang beda dari biasanya. Biasanya kan ada bagian yang buat semprot cebok. Kali ini tidak ada.

Saking kebelet, aku langsung pipis. Sambil pipis, kubaca kertas yang menempel di tembok.

"Putar pelan keran yang ada di sebelah kanan, apabila akan digunakan."

Keran? Mana keran?

Ternyata memang ada keran di sebelah kanan kloset. Kecil. Kucoba dengan pelan.

Cuuurr...
Tubuhku terguncang. Kaget.

Ada air yang keluar dari kloset, tepat di area tubuhku yang memang harus dibersihkan.

Oh, oke, oke, paham aku.

Akhirnya, kuselesaikan buang hajatku, kemudian mempraktikkan lagi yang barusan kualami. Selesai, kemudian pakai tisu.

Bagi aku yang ndeso, kemudian di rumah pakainya kloset jongkok, hal ini tentunya ilmu baru. Ben ora ketok ngisin-ngisini (Biar tidak kelihatan malu-maluin).

Keluar dari bilik, aku hendak mencuci tangan. Biasanya kan tersedia sabun, tisu, dan pengering otomatis. Nah, di situ tidak ada sabun dan pengering.

Hatiku bergejolak to ya, secara di sekolah aku koar-koar kepada murid-muridku untuk CTPS (cuci tangan pakai sabun). Eh, ini, aku malah melanggarnya sendiri.


Mau gimana lagi, dengan kesadaran diri kalau cuci tangan ini kurang bersih, akhirnya ya cuci tangan kemudian pakai tisu doang.

Oiya, aku punya cerita nih, saat pertama kali kenalan sama pengering tangan.

Dulu, entah tepatnya kapan, pertama kali lihat pengering tangan otomatis ini tuh pas makan di salah satu mall.

Nah, karena harus menyuapi Kak Ghifa pakai tangan, kucari tuh tempat cuci tangan. Padahal cuci tangan pakai sabun itu wajib ya meskipun makan pakai sendok.

Sembari cuci tangan pakai sabun, aku sudah mikir, lah ini nanti tangan masih basah kuyub dilap pakai apa. Tidak ada tisu yang terlihat. Kalau di rumah kan ada serbet.

Kuperhatikan orang sekitar yang sedang cuci tangan pula. Setelah bersih, tangannya didekatkan ke kotak ajaib, terdengar suara menderu (kayak suara motor), kemudian tangannya sudah kering.

Oh, ya ya. Kucoba praktik. Awalnya tidak bisa. Loh, kenapa? Mulai panik. Malu kalau ada yang memperhatikan.

Saat kucoba lagi, aha, bisa. Hihi. Ternyata, letak tanganku kurang dekat dengan lubang pengeringnya. Alat pengering otomatis itu kan pakai sensor ya. Hihi. Kalau tangan kita terlalu jauh dari lubang, ya nggak bakalan nyala. Kalau ingat kok geli banget. Dasar, ndeso!

Nah, gimana ceritanya kalau pas cuci tangan tidak ada tisu, serbet, atau mesin pengering? Begini solusinya...


Tadi pagi, saat aku blog walking ke tempat Mbak Ade Anita, kudapat solusi tentang masalah di atas.

Setelah cuci tangan, kok tidak ada tisu, serbet dan pengering, cukup tepuk tangan sebanyak 30 kali, tangan akan kering sendiri. Tidak percaya? Coba saja!

Kalau kamu mau ikut menyelamatkan hutan dan harimau sumatra, walau di sana ada tisu, tepuk tangan saja, yuk!

Secara pribadi, terima kasih untuk Mbak Ade Anita. Solusinya ces pleng banget. Akan aku praktikkan juga, di mana pun berada. Terutama di sekolah, kepada anak didikku nanti.

Kalau kamu punya solusi apa nih misal mendapati masalah tersebut? Atau mungkin sudah menerapkan hal serupa yang disampaikan Mbak Ade Anita?

Terakhir, aku ini memang wong ndeso, tapi ojo dipoyoki, yo (jangan diejek, ya)! Maklum, jarang piknik dan tidur di hotel.

Pesan dari tulisan ini, malu sekali boleh. Selanjutnya? Ya, jangan malu-maluin! Hahaha.

Jumat, 05 Juli 2019

Keterbatasan Bukanlah Penghalang


Pagi ini aku pengen banget bahas tentang 'keterbatasan'.

Dan ini berlaku untuk semua hal dalam kehidupan ini. Tapi, karena obrolanku ini berawal dari chat dengan bloger kondang panutanku, maka, akan menyinggung hal berkaitan dengan bloger.


Semua berawal dari...

Kami membahas banyak hal lewat chat. Sampai obrolan tentang acara liputan bloger.

Temanku ini aktif sekali ikut liputan bloger. Jangan samakan denganku ya, hahaha, bisa ikut liputan kalau pas libur sekolah, atau memang sengaja bolos sekolah karena lagi ogah/jenuh/stres yang berkepanjangan. Hahaha.

Bisa stres juga ya? Ya bisa lah, aku juga manusia biasa kok. Ups.

Bahasan kami lama-lama mulai mengerucut tentang kamera dan HP.

Aku tanya, "Mbak, bloger sekarang keren-keren ya, liputan pada pakai kamera."

"Siapa? Aku pakai HP. Ngevlog (bikin video) juga pakai HP."

Kemudian aku mikir, iya ya, temanku ini memang sering kulihat pakai HP pas liputan, sepertiku. Tapi, kebanyakan bloger di luar sana, hooo, kameranya ajib-ajib lah.

Aku mikir lagi, mau pakai HP, pakai kamera, bayaran liputan kami ya sama saja. Memang sih, hasil jepretan agak beda. Tapi, kamera HP zaman now kan keren-keren juga hasilnya. Nggak kalah lah sama kamera yang mehong itu.

Lagian, iya, kalau pakai kamera nan mahal itu hasil ambil fotonya keren. Kalau gak mahir kan ya sama saja.

Obrolan berlanjut sampai kalimat, "Opo yo ditekoni liputane nganggo (Apa ya ditanya liputan mau pakai) HP apa kamera. Yang penting tugas liputan kelar. Tanggungjawab kita selesai."

Hahaha. Benar juga ya. Pernah lho ada perasaan minder ya envy juga, Ya Allah, aku liputan pakai HP, yang lain pakai kamera keren-keren. Wajar banget nggak sih punya pikiran demikian?

Kesanku, kalau pakai kamera tuh kelihatan profesional banget. Tapi, balik lagi, profesional tidaknya kan bukan hanya perangkat yang dipakai ya?

Profesional sebagai bloger pas meliput kan banyak faktornya. Diantaranya, tugas on the spot, kelar, laporan liputan di blog dengan ketentuan yang berlaku juga selesai dengan baik. Konten tulisannya harus sesuai pesanan juga.

Toh, nyatanya, selama ini baik-baik saja.

Aku jadi pengen salto.

Oiya, pas notebook jadulku ini soak, padahal banyak deadline tulisan, aku mengerjakan semuanya lewat HP atau tablet punya Kakak. Semua ternyata bisa kelar. Bahkan beberapa kali menang lomba, dapat HP ASUS yang dipakai ibuk saat ini ya hasil dari nulis via HP.

Nah tooo...
Malu deh.

Berikut salah satu tulisanku yang kutulis lewat HP, mulai dari edit foto, bikin infografis, semua pakai HP, dan keluar jadi juara (walau bukan juara utama).


Akhirnya, sadar deh ya. Kemarin sempat terpuruk, lupa, kurang bersyukur, wis pokoke paket komplit lah.


No no minder lagi. Apa yang kamu punya, ayo dicakke! Ojo meri gone wong liyo. Gunakan, manfaatkan apa yang kita punya, semaksimal mungkin.

Kalau kita menunggu semua ada, semua sama dengan yang lainnya, kita bakal tertinggal jauh dari yang lain.

Catatan penting, jangan menunggu keadaan yang membuat kita profesional. Justru kita jadikan profesional itu untuk mengubah keadaan kita.

Ecieehhhh...

Aku sarapan apa ya pagi ini? Hahaha.

Sepakat?

Ehm, atau kamu punya pengalaman serupa? Dengan senang hati akan aku tunggu ceritamu.

Kamis, 04 Juli 2019

Perempuan Tangguh di My Secret, Terrius


Alhamdulillah, kelar nyuci piring, terus tiba-tiba pengen pemanasan nulis nih. Masih ogah-ogahan buka draft blog yang menumpuk, nulisnya di sini saja kali ya.


Tulisan ini adalah kumpulan status WhatsApp ku. Ternyata enak juga ya. Habisnya aku nyaman kalau nulis status. Dan ini manjur banget untuk membangkitkan mood menulisku setelah absen menulis di blog ini. Lihat saja, berapa tulisan yang kuhasilkan bulan kemarin? Mengenaskan banget. Ini juga ada banyak draft yang tidak selesai-selesai. Salah satunya draft tulisan lomba juga. Huft.

Ehm, aku pengen cerita tentang 'value' yang kudapat setelah nonton drakor My Secret, Terrius.

Hahaha. Jangan heran, aku juga suka kok nonton drakor! Tapi, ya tetap kubatasi. Awalnya aku dulu mikir orang yang punya kebiasaan nonton drakor tuh buang-buang waktu doang. Lha sekarang aku sendiri juga nonton drakor. Hahaha.

Ojo moyoki, mundak nemplok. Jangan meledek, nanti kamu juga kayak gitu.

Nonton drakor pas weekend, atau lagi liburan gini, its OK. Kalau pas kerjaan menumpuk, jangan sekali-kali buka aplikasi IFLIX, VIU, KLIK FILM, dkk. Dijamin bakalan nyeseeeel.

Lha nonton drakor itu nagih lho. Sumpah. Satu episode kelar, penasaran, klik lagi, nonton lagi, tahu-tahu sudah tengah malam. Nyesel? Rasakno dewe.

Jadi, kusarankan, nonton drakor pas weekend saja, tak papa. Kalau aku nih, pas mau nonton download tuh aplikasinya. Aku paling suka pakai IFLIX.  Kualitas gambar dan suaranya paling TOP. Tapi, termasuk boros juga sih. Kalau sudah kelar full pol mentok (misal 32 episode), yo tak hapus aplikasinya. Berhasil. Berhasil nggak pengen nonton lagi. Sampai ketemu di weekend berikutnya. Hihihi.

Balik lagi soal drakor My Secret, Terrius. Oiya, judul lainnya tuh Terius Behind Me.

Film ini tuh gak ada bagian 'uhuk-uhuk'nya. Adanya tembak-tembak-an, tapi pakai pistol beneran. Hahaha.

Inti ceritanya sih tentang mata-mata negara. Aku sukaaaaa genre kayak ginian. Rak ketang (meskipun) sepanjang nonton jantungku deg-deg-an banget. Pokoke tegang maksimal.



Terus, yang paling nendang banget di film ini itu tokoh perempuannya, GO AE RIN, namanya.

GO AE RIN ini (awalnya) adalah ibu rumah tangga biasa. Ngurus anaknya yang kembar, usia TK.

Suaminya seorang penulis. Kemudian dibunuh karena jadi saksi mata meninggalnya salah satu orang penggede negeri.

Otomatis lah ya ditinggal suami, Ae Rin harus berjuang mobat-mabit (kerja keras) untuk menghidupi anaknya.

Bisakah Ae Rin berjuang? Lha wong cuma ibu rumah tangga.

Bisa Gaes, bisa!

Bahkan Ae Rin keterlaluan cerdas dan tangguh. Serba bisa. Padahal ya hanya ibu rumah tangga lho.

Awalnya, dia kesulitan mendapat pekerjaan karena statusnya sebagai ibu beranak. Tapi, karena status suaminya yang sebagai korban pembunuhan, pelakunya justru mempekerjakannya.

Bersama kesulitan ada kemudahan, bukan? Tapi, kalau boleh memilih, nggak mau lah ya suaminya meninggal secara mendadak, tak bersalah pula.

Mulai dari sekretaris, penjaga outlet tas, mata-mata, sampai jadi barista dilakukan.

Kurang strong piye meneh coba? Kadang, keadaan kepepet tuh justru membuat kita untuk mau nggak mau kudu survive ya. Ora kerjo ora mangan (Nggak kerja nggak makan). Jiwa kreatifnya keluar semua. Hahaha.

Nah, dari Go Ae Rin, aku belajar tentang mimpi (baik mimpi jangka pendek atau panjang). Kita, perempuan, apalagi ibu-ibu, meskipun pekerjaannya nggak akan ada habisnya, ingat satu hal, kita nggak boleh nggak punya mimpi walau sudah jadi seorang Ibu.

Kita juga harus jadi perempuan yang mandiri, tangguh, dan tentunya cerdas di setiap saat.

Kalau saat ini mimpi itu belum bisa kita raih, jangan kubur mimpi itu! Pupuk terus, sekalipun dalam diam. Percayalah suatu saat nanti mimpi itu akan terwujud.

Oiya, di drama korea ini, Go Ae Rin ini adalah perempuan dari keluarga nelayan yang kemudian merantau ke Seoul. Sepertinya dia anak tunggal, wong nggak ada saudara yang dimunculkan. Tapi, sumpah, dia patut jadi panutanku banget banget. Aku yang juga anak tunggal percaya kalau anak tunggal kuwi ora tidak (semua) manja. Bahkan, seringkali orangtua mendidik kami (terutama perempuan) agar serba bisa. Ojo njagake wong. Jangan bergantung kepada orang lain.

Terus, pas Ae Rin latihan nyetir mobil, lha mobile nganggur nganti bobrok ora dipakai (mobil suaminya rusak karena tidak dipakai), aku envy, pengen juga latihan nyetir.

Pas nembung (izin) bapak, komentarnya langsung, "Apeh lahpo (mau ngapain) latihan nyetir barang (juga)?"

Lah mosok aku kudu jawab (apa iya aku harus jawab), "Aku pengen koyok (seperti) Go Ae Rin, Bapak. Hahaha."

Aku pengen jadi anak (tunggal) bapak yang bisa diandalkan. Embuh kapan? Saiki (sekarang), jelas, durung iso diandalke babar blas (belum bisa diandalkan sama sekali).

Hahaha.
Sudah, sudah, ini tukang ngereview drama korea abal-abal banget ya. Endingnya malah curhat. Maafkan 🙏

My Secret, Terrius ini rekomended banget untuk ditonton. Tentang Kim Bon, tetangga Go Ae Rin, nggak aku bahas. Soalnya sing nyantol banget di film ini ya sosok Go Ae Rin.


Kamu, kamu, kamu, sudah nonton drama korea yang satu ini? Tokoh mana yang paling nyantol di hati kamu?